MEDIA UNGKAP FAKTA INFO//Ogan Ilir Sumsel, 28 Februari 2026 – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan viralnya unggahan akun Facebook bernama Ratna Aje yang diduga merupakan pemilik dapur SPPG program Makanan Bergizi (MBG).
Postingan tersebut menuai kecaman karena dinilai mengandung kata-kata tidak pantas terhadap orang tua murid yang menyampaikan kritik atas sajian MBG.
Dalam tangkapan layar yang beredar, akun tersebut melontarkan kalimat bernada ancaman kepada akun Emi Susilawati, bahkan disertai emoji kepalan tangan. Pernyataan itu memicu reaksi keras dari warganet yang menilai komunikasi tersebut tidak mencerminkan etika, terlebih dalam program pemerintah yang menyasar kepentingan anak-anak sekolah.
Sejumlah wali murid yang menerima fasilitas MBG mengaku bersyukur atas program tersebut, namun menegaskan bahwa kritik yang disampaikan semata-mata demi perbaikan kualitas menu.
“Kami berterima kasih atas bantuan MBG ini. Tapi kalau ada masukan soal variasi dan kualitas, itu bukan berarti kami tidak bersyukur. Itu demi kebaikan bersama,” ujar salah satu wali murid.
Menurutnya, kritik masyarakat seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan dibalas dengan pernyataan emosional di media sosial.
Sementara itu, Emi Susilawati saat dikonfirmasi menyatakan dirinya hanya meneruskan unggahan yang sudah beredar dan tidak memiliki niat menyerang pihak mana pun.
“Saya hanya membagikan ulang. Banyak juga akun lain yang membagikan, tapi kenapa saya yang disudutkan dan diancam. Saya tidak pernah mengisi atau mengelola dapur MBG,” jelasnya.
Menanggapi polemik tersebut, Ketua tokoh insan pers Ogan Ilir, Fidiel Castro, menyayangkan sikap yang dinilai memperkeruh suasana.
Ia menegaskan bahwa program MBG merupakan program yang didanai negara dengan anggaran besar, sehingga transparansi dan keterbukaan terhadap kritik menjadi hal yang mutlak.
“Kritik warga semestinya dijadikan evaluasi agar kualitas pelayanan semakin baik. Bukan justru memicu kebencian dan keresahan publik,” tegasnya.
Ia juga meminta pihak pengawas di tingkat provinsi hingga pusat untuk melakukan evaluasi serius terhadap pengelolaan dapur MBG di Ogan Ilir agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.
Program MBG sendiri sejatinya bertujuan membantu pemenuhan gizi anak sekolah. Namun, polemik ini menjadi pengingat bahwa etika komunikasi dan profesionalisme pelaksana di lapangan sama pentingnya dengan kualitas menu yang disajikan.
Masyarakat berharap persoalan ini segera ditangani secara bijak agar tidak berkembang menjadi konflik yang merugikan semua pihak, khususnya para siswa sebagai penerima manfaat utama program tersebut."(Elwin/Tim)
.png)

.png)
