Palembang,Ungkap Fakta.
Ratusan umat Islam di Kota Palembang menggelar salat idulfitri di halaman parkir Masjid Al-Mustanir, Jakabaring, Palembang, Kamis (19/3/2026). Diketahui, jemaah Masjid Al-Mustanir merayakan Idulfitri lebih awal dari yang ditetapkan pemerintah.
Acara tersebut menghadirkan Ustaz Syahrul Musta’in sebagai imam salat id dan Ustaz Surakhman sebagai khatib. Di awal acara, Ustaz Syahrul menjelaskan bahwa pelaksanaan shalat Ied didasarkan pada kesaksian sejumlah besar muslim di Afghanistan -warga provinsi Helmand, Farah, Ghar- yang melihat hilal Syawal 1447 H, sehingga dinyatakan sah menurut 3 mazhab.
Adapun Ustaz Surakhman menjelaskan alam khotbahnya bahwa hari raya Idul Fitri harusnya menjadi hari perenungan.
“Idulfitri juga harusnya menjadi hari perenungan. Hari saat hati kita seharusnya bertanya dengan nada cemas: Mengapa umat Islam yang jumlahnya hampir dua miliar masih banyak yang tertindas?” Ujarnya di hadapan jemaah salat Idulfitri.
Ia mengingatkan atas yang menimpa pada warga Gaza yang terus dibombardir dan darah kaum muslimin yang terus tertumpah di Myanmar, Xinjiang, Kashmir hingga Sudan.
“Mengapa jeritan mereka seolah tidak mampu mengguncang dunia dan saudara seiman? Bahkan, di dalam negeri, mengapa duka Sumatra dan sejumlah wilayah lain akibat bencana belum bisa kita hapuskan?” Tanyanya.
Menurutnya, jawabannya adalah karena umat Islam saat ini tercerai-berai dan terpisah-pisah oleh batas-batas imajiner yang sengaja dibuat oleh bangsa-bangsa kafir penjajah.
“Kita sudah menjadi negara-bangsa (nation-state) dan nasionalisme sempit. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri Muslim lainnya tidak mampu membela sebagai satu kekuatan,” sambungnya.
Ia menjelaskan bahwa persaudaraan dalam Islam tentu bukan sekadar ada di kata-kata.
“Ia adalah ikatan akidah yang melampaui ras, bangsa dan batas negara,” pungkasnya.
.png)

.png)
