SULSEL, Ungkapfakta.Info -
Dalam rangka peningkatan profesionalisme Guru sekaligus meningkatkan SDM pendidikan yang unggul serta mempererat tali silaturahmi, pengurus PGRI Kabupaten Luwu Utara siap mengikutinya.
Hal tersebut disampaikan Ketua PGRI Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel) Ismaruddin pada media ini, Senin 20 Oktober 2025.
Ismaruddin mengajak semua guru supaya dalam proses mendidik siswa di sekolah harus menerapkan asas disiplin. Sebab menjadi seorang guru atau pendidik harus mempunyai perilaku baik sehingga dapat dicontohi oleh para peserta didiknya.
Guru adalah seorang panutan bagi siswanya baik dilingkungan sekolah maupun di luar sekolah, karena ada istilah 'guru kencing berdiri murid kencing berlari', itu mempunyai arti bahwa, seorang guru itu dipercaya oleh muridnya dan diikuti setiap tindak tanduknya.
"Berarti apapun yang dikatakan oleh seorang guru pasti akan dipercaya oleh muridnya, dan apapun yang lakukan oleh guru dalam mendidik pasti akan diikuti juga oleh muridnya," sebutnya.
Ketua PGRI Kabupaten Lutra, Ismaruddin mengatakan bahwa, kalau di Sulsel/Makassar jenis perlombaan dalam rangka memperingati HUT PGRI yang ke- 80 ini yakni, Lomba Ikrar Guru Indonesia, memperkuat semangat kebangsaan.
Lomba pengucapan Ikrar Guru Indonesia dan Donor Darah.
Ismaruddin juga menyebutkan, tujuan kegiatan selain untuk menjalin tali silaturahmi antar guru, juga bertujuan meningkatkan kesadaran dan komitmen guru dan pemangku kepentingan pendidikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan dan pembangunan karakter bangsa.
Kemudian guna memperkuat semangat dan dedikasi guru melalui organisasi guru profesional PGRI dalam meningkatkan sumber daya manusia.
"Memperkuat rasa kebersamaan guru melalui organisasi profesi PGRI yang independen, demokratis dan kesinambungan dan memperkokoh solidaritas serta kesetiakawanan anggota," terangnya.
Sekadar diketahui bahwa, sejarah HUT PGRI yakni, awwl mulanya berdirinya organisasi ini adalah karena semangat kebangsaan Indonesia yang telah lama tumbuh di kalangan para guru.
Pada tahun 1912, ketika masih zaman penjajahan Belanda, organisasi perjuangan guru-guru telah berdiri dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, mereka umumnya bertugas si sekolah dess dan sekolah rakyat angka dua.
Pada tahun 1932, Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) resmi berganti nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pergantian nama ini mengejutkan pemerintah kolonial Belanda karena penggunaan kata "Indonesia" dianggap mencerminkan semangat kebansaan yang sangat ditentang oleh Belanda. Saat masa pendudukan Jepang, semua organisasi dilarang dan sekolah-sekolah ditutup, sehingga PGI tidak dapat lagi beraktivitas.
Yustus
.png)
.png)
