• Jelajahi

    Copyright © Ungkap Fakta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    iklan

    iklan

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    DI BALIK TIRAI KEMEGAHAN BOGOR: KONTRAKTOR TERJEPIT ANTARA TITAH PEMPROV DAN JANJI PALSU PEMKAB

    Minggu, 04 Januari 2026, Januari 04, 2026 WIB Last Updated 2026-01-04T03:36:16Z
    masukkan script iklan disini



     



    BOGOR – (04 Januari 2026) Panggung pencitraan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor di media sosial kini tampak seperti "Menari di Atas Luka". Di saat akun resmi pemerintah sibuk memoles kemegahan proyek infrastruktur yang viral, ratusan kontraktor justru sedang sekarat di balik layar. Mereka tidak hanya menghadapi macetnya pembayaran, tapi juga hantaman regulasi tambang yang membuat pengerjaan proyek bak "Mencari Jarum di Tumpukan Jerami".


    ​Kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) yang menutup akses tambang material di wilayah Bogor menjadi pukulan telak. Kontraktor dipaksa memenuhi kontrak yang ketat, namun sumber daya materialnya dikunci rapat.


    Wawancara Eksklusif: "Kami Seperti Disuruh Berenang, Tapi Tangan dan Kaki Diikat"

    ​Kami kembali menemui Roni (nama samaran), seorang kontraktor yang kini wajahnya lebih kusam dibanding beton yang ia kerjakan. Ia menceritakan betapa mustahilnya medan tempur yang ia hadapi.


    "Ini benar-benar gila. Di satu sisi, Pemprov menutup tambang material, membuat kami harus kucing-kucingan atau mencari material dari luar daerah dengan harga selangit. Di sisi lain, kontrak dari Pemkab Bogor tidak mau tahu; pengerjaan harus selesai secepat kilat sesuai deadline," ujar Roni dengan nada bergetar.


    ​Ia menyindir betapa kontrasnya situasi di lapangan dengan apa yang dipamerkan di media sosial.


    "Lucu rasanya melihat proyek itu di-share di sosmed Pemkab dengan caption 'Bogor Membangun'. Padahal, kami berdarah-darah mencari material karena tambang ditutup. Kami seperti disuruh berenang secepat atlet, tapi tangan dan kaki kami diikat oleh regulasi Pemprov. Pas garis finish tercapai dan proyek jadi megah, Pemkab malah pura-pura amnesia buat bayar jasa kami," cetus Roni.


    ​Roni merasa kontraktor dijadikan "Sapi Perah" dalam drama birokrasi ini. Biaya operasional membengkak karena langkanya material, namun nilai kontrak tidak berubah, ditambah lagi dengan pembayaran yang digantung tanpa kepastian.


    "Kami sudah berkorban segalanya. Modal habis buat beli material mahal gara-gara tambang tutup, tenaga habis diperas deadline, tapi pas proyek sudah viral dan dipuji rakyat, kami justru dibiarkan mengemis hak sendiri. Apakah Pemkab Bogor tidak malu pamer kemewahan dari hasil keringat yang belum dilunasi?"


    ​Fenomena "Gaya Elit, Bayar Sulit" ini kini menjadi rahasia umum yang menyakitkan. Kemegahan yang terpampang di Instagram Pemkab Bogor hanyalah "Topeng Indah" yang menutupi borok tata kelola keuangan dan lemahnya koordinasi antarinstansi.


    "Jangan pamer proyek viral kalau rekening kami masih mati suri. Di balik setiap jepretan foto estetik itu, ada kontraktor yang rumahnya mau disita bank dan buruh yang anaknya terancam putus sekolah. Berhenti bersandiwara di media sosial, segera tunaikan kewajiban sebelum kemegahan ini runtuh oleh doa-doa orang yang terzalimi," pungkas Roni dengan getir.


    ​Hingga saat ini, ratusan kontraktor masih menanti keberanian Pemkab Bogor untuk berhenti bersembunyi di balik konten medsos dan segera melunasi hutang pembangunan yang kian menumpuk.


    (Rio)


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    https://www.profitableratecpm.com/knzuikf5dh?key=c788dca60ab1d7a8d48523714ff94c5e