• Jelajahi

    Copyright © Ungkap Fakta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Hujan Belum Sejam, Banjir Naik Lagi di Hutanabolon II: Gagal Total Penanganan, Warga Tantang Bupati Turun ke Lokasi

    Jumat, 02 Januari 2026, Januari 02, 2026 WIB Last Updated 2026-01-02T06:53:52Z
    masukkan script iklan disini




    TAPTENG | TAPANULI TENGAH –Ungakap Fakta.Info) Klaim penanganan banjir di Hutanabolon II, Kecamatan Tukka, kembali runtuh di hadapan fakta lapangan. Baru diguyur hujan belum genap satu jam, air banjir kembali naik dan menggenangi rumah warga, Jumat (2/1/2026). Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, khususnya Bupati, yang selama ini disebut-sebut telah memulai penanganan di wilayah tersebut.

    Ironisnya, Hutanabolon II merupakan titik awal penanganan bencana, namun hingga kini saluran air dan jalur pembuangan banjir belum juga diselesaikan dan dibuka secara tuntas. Akibatnya, setiap hujan turun, air tak punya arah dan kembali meluap ke pemukiman warga.

    “Ini bukan hujan besar. Belum satu jam, air sudah naik dan masuk ke rumah kami. Kalau ini disebut penanganan, berarti gagal total. Kami minta Bupati turun langsung, jangan cuma dengar laporan manis,” tegas warga berinisial ST kepada jurnalis di lokasi.

    Kondisi ini memicu kepanikan warga yang trauma banjir berulang. Mereka menilai pemerintah daerah lalai, setengah hati, dan tidak serius, karena membiarkan persoalan utama—saluran air—menggantung tanpa penyelesaian.

    Lebih memprihatinkan lagi, ketika fakta lapangan diungkap ke publik, jurnalis justru menjadi sasaran serangan. Sejumlah pihak diduga mengolok-olok dan mempermalukan jurnalis di berbagai grup WhatsApp, hanya karena pemberitaan dinilai “tidak menyenangkan junjungan”.

    “Alih-alih menyelesaikan banjir, yang sibuk justru membungkam kritik. Jurnalis diserang, dilecehkan, dan dipermalukan karena berani membuka fakta,” ungkap salah satu jurnalis.

    Perlakuan tersebut dinilai sebagai upaya sistematis membungkam kebebasan pers, sekaligus mencerminkan mental anti-kritik di tengah krisis yang menyangkut keselamatan warga. Padahal, pers dilindungi undang-undang dan memiliki tugas konstitusional untuk mengawasi kekuasaan.

    Warga menilai, jika Bupati terus menghindari turun ke lapangan dan hanya mengandalkan laporan sepihak, maka banjir di Hutanabolon II bukan lagi musibah alam, melainkan produk langsung dari kelalaian dan kegagalan kepemimpinan.

    “Kalau hujan sebentar saja sudah banjir, lalu apa yang sebenarnya sudah dikerjakan? Jangan jadikan penderitaan warga sebagai panggung pencitraan,” tutup ST dengan nada kecewa,tutupnya.



    (Hasanuddingulo)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    https://www.profitableratecpm.com/knzuikf5dh?key=c788dca60ab1d7a8d48523714ff94c5e