PARIGI MOUTONG – Kelvin Yansa, Media Ungkap Fakta wilayah liputan Parigi Moutong, kembali menyoroti sebuah temuan lama yang mengejutkan publik. Sebuah koran lawas dari Media Formasi edisi 16 November 1999, yang disimpan oleh Wanis J. Palilemba (wanis j .palilemba berumur 80 tahun tinggal di desa mepanga parimo), membuka cerita menarik yang sempat beredar di Sulawesi Tengah pada akhir tahun 1990-an.
Wanis J. Palilembah diketahui merupakan keturunan Raja Palu, yakni Raja Palilemba. Ia juga memiliki hubungan keluarga dengan Johara Palilembah. Koran tersebut ditulis oleh seorang penulis bernama Badri, yang mengangkat kisah kunjungan penting tokoh nasional pada masa itu.
Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa pada Mei 1999, Megawati Soekarnoputri pernah berkunjung ke Palu dalam rangka kegiatan sosialisasi politik. Namun, di balik kunjungan itu, terselip cerita yang cukup menarik perhatian.
Disebutkan bahwa Megawati sempat menanyakan keberadaan suatu wilayah bernama Sindue. Saat itu, orang yang ditanya menjelaskan bahwa Sindue berada sangat jauh dari Palu, bahkan mencapai ratusan kilometer, dengan akses yang sulit karena belum memadai untuk dilalui kendaraan.
Mendengar penjelasan tersebut, Megawati hanya terdiam. Niatnya untuk menyempatkan diri berkunjung ke Sindue pun akhirnya tidak terlaksana.
Kisah ini semakin menarik ketika muncul cerita dari warga Desa Enu. Mereka menyebutkan adanya sosok “Ratu” yang tinggal di wilayah Sindue, yang dikabarkan sangat bergembira ketika Megawati terpilih sebagai Wakil Presiden Indonesia kala itu. Kegembiraan tersebut konon disebabkan adanya hubungan kekeluargaan antara sang “Ratu” dengan Megawati.
Bahkan, beredar kabar di Desa Enu bahwa Megawati berencana mengunjungi wilayah tersebut untuk menemui sosok yang dikenal dengan nama Hindia, anak dari Lasadindi. Sosok ini disebut-sebut dalam cerita masyarakat sebagai figur penting yang dipercaya memiliki kaitan historis dengan keluarga besar Soekarno/soekar lino.
Namun sangat disayangkan, hingga berita itu diterbitkan, pihak Media Formasi belum sempat melakukan konfirmasi lebih lanjut terkait kebenaran informasi tersebut. Disebutkan bahwa kendala birokrasi menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya penelusuran fakta di lapangan.
Hingga kini, kisah tersebut masih menjadi tanda tanya besar—apakah sekadar cerita yang berkembang di masyarakat atau memiliki dasar sejarah yang kuat. Yang jelas, temuan koran lama ini kembali membuka ruang diskusi tentang potongan-potongan sejarah yang nyaris terlupakan.
Sumber: Media Formasi, 16 November 1999 (Tulisan Badri)
.png)

.png)
