Pasaman.Ungkap Fakta.Info.Ayunan langkah kaki yang perlahan saat salaman berpamitan acara pelepasan jemaah haji Kabupaten Pasaman di iringi doa-doa serta lantunan shalawat yang lirih, seorang ibu tua "Dasiar Boer Burhanudin", warga Bonjol, Pasaman berdiri kokoh dengan penuh semangat dan tatapan mata yang penuh makna.
Seorang Ibu berusia senja, di usia yang telah mencapai 84 tahun, Dasiar Boer Burhanudin, calon jemaah haji ini tetap memiliki semangat kuat menjalankan ibadah Haji.
Lansia perempuan asal Padang Gantiang, Kumpulan Bonjol Kabupaten Pasaman ini tercatat sebagai jemaah haji tertua tahun ini dari Pasaman. Baginya, usia hanyalah angka, dan semangatnya untuk menjemput cinta Sang _"Al-Wadud"_ ke Baitullah begitu menyala.
Meski berumur senja, Dasiar Boer tidak ingin diperlakukan istimewa dengan predikat jemaah tertua melekat padanya. bersama 193 jemaah haji asal Kabupaten Pasaman lainnya, Ia tetap ingin menjalani seluruh rangkaian ibadah seperti jemaah lain, tanpa keluhan dan tanpa beban sedikitpun.
"Alhamdulillah bisa pai beribadah shalat (berangkat shalat ke masjid nabawi), Insya'Allah diberikan kekuatan (jalannya) dan kembali lagi ke Pasaman nanti," kata Dasiar Boer saat ditemui media ini disela-sela prosesi pelepasan 193 Calon Jemaah Haji (CJH) Kabupaten Pasaman di Masjid Agung, Pasaman Islamic Center, Kemaren.
Dasiar Boer mengaku butuh waktu 13 tahun menanti giliran untuk bisa berhaji. Kini, penantian itu terbayar kontan. Ia menjadi salah satu diantara 193 Calon Jemaah Haji (CHJ) Kabupaten Pasaman yang berangkat tahun 2026 ini.
Detik demi detik ia jalani dengan penuh syukur sejak tiga belas tahun yang lalu untuk bisa menembus niat dan cita-citanya ini menuju perjalanan spiritual ke tanah suci. Dasiar Boer saat mau berangkat didampingi sanak saudara yang setia menuntun langkahnya dilepas resmi oleh Pemkab Pasaman bersama jamaah lainnya.
Tidak ada kata yang lebih pas menggambarkan perasaannya, selain rasa senang. "Yo, batua-batua sananglah rasonyo (yang jelas pasti senang, senang rasanya), cita-cita pengen bisa beribadah di tanah suci". Ujarnya.
Sejak muda, Dasiar Boer dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ibu Dasiar Boer adalah seorang aktivis sosial kemasyarakatan. Ia menghabiskan hari-harinya di polindes/posyandu Padang Gantiang, Kumpulan Bonjol. Ia jalani hari harinya dengan mengabdi.
Kini, di usia senja, meski ia kumpulkan sedikit-demi sedikit uang termasuk dari pemberian keluarganya, akhirnya niatnya untuk memenuhi panggilan Allah ke Baitullah pun tercapai.
"Saya pergi naik haji, pakai uang saya pribadi yang saya tabung, dikasih sama sanak famili dan kerabat saya kumpul-kumpulin" Cerita Dasiar Boer.
Soal makanan, Dasiar Boer mengaku tidak punya pantangan. Apapun hidangan jamaah yang lain ia santap. Ia lahap menyantap sayur dan lauk lainnya. Ia hanya tidak mau makan kacang karena bisa membuat kambuh asam urat. Untungnya, hidangan untuk jemaah haji kata dia sangat sesuai dengan seleranya.
"Ya, cocok kasadonyo (cocok semuanya menunya)," katanya seraya tersenyum.
Dasiar Boer baru mengetahui bahwa dirinya merupakan jemaah tertua tahun ini saat diumumkan pada prosesi pelepasan di Masjid Agung Al-Muttaqin, Pasaman Islamic Center (PIC) saat pelepasan jemaah minggu (3/5/2026). Namun, ia tidak merasa terbebani. Justru rasa syukur melimpah karena diberi kesempatan menjadi tamu Allah SWT.
Ia meyakini usia panjang adalah anugerah Tuhan. Di tanah suci, ia ingin bersujud syukur, menyerahkan seluruh rasa cinta, harap dan terima kasih kepada sang pencipta atas karunia hidupnya selama ini.
Pemerintah Kabupaten Pasaman melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda dengan Kementerian Haji (Kemenhaj) Pasaman terus berikhtiar menghadirkan penyelenggaraan haji yang ramah lansia kedepannya.
Berbagai fasilitas dan kemudahan turut diberikan pada musim haji tahun ini, seperti skema murur, tanazul, dan safari wukuf. Skema ini bertujuan mengurangi kepadatan jemaah dan memberikan pelayanan yang lebih maksimal kepada jemaah lansia dan disabilitas.
Kepala Kantor Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kabupaten Pasaman Mukhsinin menyampaikan fenomena Bu Dasiar Boer adalah sebuah inspirasi bagi kita semua di Pasaman. Walaupun dengan penantian panjang untuk bisa menunaikan perjalanan besar ibadah suci akhinya dikabulkan oleh Allah. Katanya.
Muksinin mengatakan, kepada seluruh masyarakat Pasaman tetaplah semangat dalam mempersiapkan diri menunggu panggilan suci. Antrian jangan dijadikan penghalang. Karena jika Allah sudah memanggil maka apapun tak ada yang bisa menghalangi.
"Bagi masyarakat yang masih antri, tetap semangat, mudah-mudahan niat baik untuk berangkat ke baitullah dipermudah," kata Muksinin.
Muksinin juga menyampaikan jika layanan haji sudah semakin lebih baik. Termasuk juga dengan kegiatan layanan pendampingan ibadah haji, termasuk dengan pendampingan tim kesehatan terus menjadi prioritas. Termasuk fasiltas pendukung seperti transportasi dan akomodasi lainnya.
Dari kisah Dasiar Boer, seorang wanita berusia senja meyakini usia panjang adalah anugerah Allah SWT. Di tanah suci, ia ingin bersujud syukur, menyerahkan seluruh rasa cinta, harap, dan terima kasih kepada sang pencipta. Semangat Dasiar Boer menjadi inspirasi bagi jemaah haji lainnya, bahwa usia tidak menjadi penghalang untuk menjalankan ibadah haji dengan khidmat dan penuh kesyukuran. Termasuk Dasiar Boer, Meski sudah 84 Tahun, ke Baitullah baginya adalah menjemput cinta sejati sang pemilik cinta. (Joni Satri)

.png)

.png)
