Ungkapfakta.info // LAMPUNG SELATAN – Menanggapi berbagai keluhan masyarakat terkait lambatnya penyelesaian pekerjaan perbaikan dan pembangunan Jembatan Pendem di Jalan RA Basyid, perbatasan Desa Karang Sari dan Desa Fajar Baru, Kecamatan Jatiagung, Koordinator Unit Pelaksana Teknis (KUPT) Pekerjaan Umum Kecamatan Jatiagung, Subani, memberikan penjelasan rinci dan tegas kepada awak media mengenai alasan keterlambatan tersebut.
“Kalau khusus pembangunan jembatan atau gorong-gorong tipe box culvert, itu sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari dan sudah selesai, Bang. Namun, ada pekerjaan pendukung lain yang justru memakan waktu jauh lebih lama dan rumit, yaitu pembangunan tembok penahan tanah atau Retaining wall dengan ketinggian mencapai 4,5 meter,” ungkap Subani membuka penjelasannya.
Ia menegaskan, pembangunan struktur setinggi itu bukan pekerjaan tambahan sembarangan, melainkan langkah teknis mutlak yang wajib dilakukan demi mengamankan badan jalan agar tidak longsor. Mengingat kondisi tanah di lokasi tersebut diketahui cukup labil dan rawan tergerus aliran air, pembangunan tembok penahan ini menjadi sangat krusial. Tujuannya jelas: menjaga keutuhan jalan dan keselamatan seluruh pengguna jalan, agar di kemudian hari tidak terjadi kerusakan parah atau bahkan kecelakaan fatal akibat longsor.
Subani kemudian memaparkan dua kendala utama yang secara langsung menghambat laju progres pekerjaan dan membuat jadwal pelaksanaan menjadi mundur dari rencana semula.
“Ada dua hambatan utama yang sangat berpengaruh terhadap kecepatan kerja kami: pertama adalah faktor cuaca yang tidak menentu dengan curah hujan cukup tinggi. Hal ini sangat mengganggu proses teknis seperti pengecoran, pemadatan tanah, serta menjaga kualitas material yang digunakan. Kedua, arus lalu lintas yang terus memaksa melintas di lokasi proyek,” jelasnya.
Ia menambahkan, secara aturan dan teknis, seharusnya jalan ini ditutup total agar pekerjaan bisa berjalan cepat, aman, dan maksimal tanpa gangguan. “Kami sebenarnya sudah berupaya keras menutup akses jalan tersebut, namun upaya itu gagal dilakukan karena banyaknya kendaraan yang tetap memaksa lewat bahkan memprotes saat akses ditutup,” tambah Subani.
Situasi ini akhirnya memaksa tim pelaksana bekerja secara bertahap dan harus bergantian dengan arus kendaraan yang lewat. Akibatnya, waktu penyelesaian proyek menjadi jauh lebih lama dibandingkan perkiraan awal yang disusun.
Sampai saat ini, masyarakat sekitar dan para pengguna jalan masih berharap agar kendala yang ada segera dicarikan solusi strategis. Salah satu harapan terbesar adalah adanya pengaturan lalu lintas yang lebih tegas dan terkoordinasi, sehingga pembangunan ini dapat rampung secepatnya. Mereka juga menaruh keyakinan besar agar setelah pekerjaan selesai nanti, infrastruktur ini benar-benar kokoh, aman, dan mampu melancarkan arus perlintasan di perbatasan kedua desa tersebut, tanpa lagi terancam bahaya longsor atau kerusakan berulang.
Di akhir keterangannya, pihak pelaksana memohon pengertian dan kesabaran dari seluruh warga serta pengguna jalan. Ditekankan bahwa segala pekerjaan yang sedang dilakukan saat ini merupakan bentuk investasi jangka panjang demi menjamin keamanan, kenyamanan, serta ketahanan infrastruktur bersama di wilayah Kecamatan Jatiagung.


.png)



.png)

