• Jelajahi

    Copyright © Ungkap Fakta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Tak Sekadar Bangun Infrastruktur, Karya Bakti Kodim 0319/Mentawai Hadirkan Pembangunan Berbasis Riset

    Troypass
    Jumat, 28 Agustus 2026, Agustus 28, 2026 WIB Last Updated 2026-08-28T03:42:28Z
    masukkan script iklan disini




    TUAPEIJAT, — Karya Bakti TNI Angkatan Darat untuk Rakyat Tahun 2026 di Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak sekadar menghadirkan pembangunan infrastruktur. Lebih dari itu, program ini menghadirkan pendekatan baru yang menggabungkan pengabdian, riset akademik, dan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Selama 50 hari pelaksanaan, Satgas Karya Bakti TNI AD tidak hanya membangun jembatan, sumur bor, jalan, rumah layak huni, serta fasilitas sosial. Dampak pembangunan tersebut juga dikaji secara langsung melalui keterlibatan tim peneliti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bersama perwira siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SeskoAD).

    Tim peneliti UPI yang terlibat terdiri dari Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., Riko Arrasyid, M.Pd., dan Dadi Mulyadi Nugraha, M.Pd. Mereka berkolaborasi dengan personel SeskoAD, yakni Letkol Inf Mansur Kole, S.Ag., M.M., Mayor Arh David Afriliansyah, S.Than., dan Mayor Inf Gafa Aditya Siswanto, S.Than.

    Kolaborasi tersebut diarahkan untuk melihat pembangunan secara lebih luas. Bukan hanya apakah sebuah infrastruktur telah selesai dibangun, tetapi juga bagaimana fasilitas tersebut mengubah kehidupan masyarakat dari sisi sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga mobilitas warga.

    Turun Langsung Mengukur Dampak Pembangunan

    Tim UPI dan SeskoAD turun langsung ke lapangan. Mereka meninjau sejumlah lokasi pembangunan sekaligus melakukan wawancara mendalam dengan masyarakat penerima manfaat dan warga yang terdampak pembangunan.

    Di Kecamatan Sipora Selatan, tim meninjau dua unit jembatan beton yang berada di Dusun Katiet dan Dusun Gobik, Desa Bosua, serta satu unit jembatan gantung di Desa Beriulou.

    Bagi masyarakat, jembatan tersebut bukan sekadar konstruksi beton dan besi. Kehadirannya menjadi pembuka akses yang selama ini terkendala kondisi geografis Mentawai.

    Jalur yang sebelumnya sulit dilalui kini menjadi lebih mudah. Aktivitas warga, akses anak-anak menuju sekolah, pelayanan kesehatan, hingga mobilitas ekonomi masyarakat menjadi lebih terbuka.

    Selain pembangunan jembatan, program Karya Bakti juga menghadirkan fasilitas air bersih melalui pembangunan sumur bor di sejumlah titik strategis di Kecamatan Sipora Selatan dan Sipora Utara.

    Di antaranya berada di Yayasan Santo Yosef Dusun Sioban, SDN 27 Beriulou, Kantor Desa Bosua, hingga kawasan permukiman warga Nemnem Leleu Utara.

    Bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan sumber air, hadirnya sumur bor menjadi sebuah perubahan yang sangat berarti.

    Bukan Sekadar Bangunan, tetapi Perubahan Kehidupan

    Ketua Tim Peneliti UPI, Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., menegaskan bahwa kajian yang dilakukan tidak berhenti pada hasil pembangunan secara fisik.

    “Kami tidak hanya melihat hasil fisik, tetapi juga perubahan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat.”

    Hasil penelusuran lapangan menunjukkan respons positif masyarakat terhadap pembangunan yang dilakukan Satgas Karya Bakti TNI AD.

    Salah seorang warga penerima manfaat sumur bor di Yayasan Santo Yosef, Dusun Sioban, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan tersebut.

    “Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan seluruh jajarannya, khususnya TNI AD, atas bantuan yang diberikan melalui Satgas Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat. Dengan adanya sumur bor, kami merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan air di lingkungan gereja.”

    Hal serupa dirasakan masyarakat Desa Bosua. Kehadiran jembatan penghubung memberikan akses yang lebih aman dan nyaman bagi warga.

    “Jembatan ini sangat membantu kami. Sekarang kami tidak perlu memutar jalan jauh. Anak-anak sekolah juga lebih aman.”

    Jembatan yang Membuka Jalan Kemajuan

    Komandan Kodim 0319/Mentawai sekaligus Dansatgas Karya Bakti, Letkol Inf Bambang Budi Hartanto, menegaskan bahwa pembangunan jembatan merupakan bagian penting dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

    “Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua wilayah, melainkan jembatan kemajuan ekonomi dan kemudahan akses warga untuk keperluan pendidikan, kesehatan, maupun perdagangan hasil bumi.”

    Makna pembangunan tersebut semakin terlihat ketika tim peneliti meninjau fasilitas sumur bor di Desa Beriulou.

    Di lokasi tersebut, tim bersama para murid sekolah dasar tampak mencoba langsung fasilitas air yang telah selesai dibangun. Anak-anak mencuci tangan dan membasuh wajah menggunakan air yang mengalir dari sumur bor.

    Sebuah pemandangan sederhana, tetapi menggambarkan arti besar pembangunan: air bersih yang hadir lebih dekat berarti kehidupan yang lebih sehat dan masa depan yang lebih baik.

    Gotong Royong Menjadi Modal Sosial

    Keterlibatan akademisi UPI dan perwira SeskoAD menjadi nilai tambah tersendiri dalam pelaksanaan Karya Bakti TNI AD 2026.

    Tim tidak hanya mendokumentasikan hasil pembangunan, tetapi juga mengidentifikasi berbagai faktor yang mendukung keberhasilan program, termasuk partisipasi masyarakat, budaya gotong royong, serta kearifan lokal yang masih kuat di tengah masyarakat Mentawai.

    Anggota Tim Peneliti UPI, Riko Arrasyid, M.Pd., mengatakan semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan program.

    “Kami melihat semangat gotong royong yang kuat antara TNI dan masyarakat. Ini adalah modal sosial yang sangat penting untuk keberlanjutan program ke depan.”

    Sinergi tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan yang kuat tidak hanya membutuhkan anggaran dan infrastruktur, tetapi juga kepercayaan, partisipasi, pengetahuan, dan kebersamaan masyarakat.

    50 Hari, Beragam Manfaat untuk Masyarakat Mentawai

    Selama 50 hari pelaksanaan Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat Tahun 2026 di Kabupaten Kepulauan Mentawai, berbagai pembangunan fisik dan kegiatan sosial berhasil direalisasikan.

    Di sektor air bersih dan sanitasi, dibangun 10 titik sumur bor dan 10 unit MCK.

    Untuk membuka akses antarwilayah, dibangun 6 unit jembatan, terdiri dari 5 jembatan beton dan 1 jembatan gantung, serta pengerasan jalan sepanjang 300 meter.

    Di sektor perumahan dan fasilitas sosial, program ini juga merehabilitasi 10 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), 1 unit mushola, 1 unit gereja, dan 1 unit sekolah.

    Sementara itu, pembangunan nonfisik turut menyentuh langsung kebutuhan masyarakat melalui operasi katarak, sunatan massal, pengobatan gratis, pembagian 1.500 paket sembako, serta sosialisasi pembinaan kesadaran bela negara dan rekrutmen TNI.

    Dari Mentawai untuk Model Pembangunan Berkelanjutan

    Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, menyambut baik pelaksanaan Karya Bakti TNI AD dan mengapresiasi kontribusi TNI AD dalam membantu pembangunan di wilayah Kepulauan Mentawai.

    Karya Bakti TNI AD 2026 pada akhirnya tidak hanya meninggalkan jejak berupa jembatan, jalan, sumur bor, rumah, maupun fasilitas sosial.

    Program ini juga meninggalkan sebuah pesan penting: pembangunan akan semakin kuat ketika TNI, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat berjalan dalam satu tujuan.

    Keterlibatan UPI dan SeskoAD menjadikan pembangunan di Mentawai tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang telah dibangun?”, tetapi berkembang menjadi pertanyaan yang jauh lebih penting:

    “Seberapa besar pembangunan tersebut mengubah kehidupan masyarakat?”

    Dari jembatan yang membuka akses, sumur bor yang menghadirkan air bersih, hingga rumah yang kembali layak dihuni, Karya Bakti TNI AD 2026 menunjukkan bahwa pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya tentang membangun fasilitas.

    Pembangunan adalah tentang membuka harapan, menghadirkan kemudahan, dan menciptakan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat.

    Dan di Kepulauan Mentawai, semangat itu tumbuh melalui sinergi TNI, akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat—berbasis riset, berorientasi pada kebutuhan rakyat, serta diarahkan untuk keberlanjutan. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    https://www.profitableratecpm.com/knzuikf5dh?key=c788dca60ab1d7a8d48523714ff94c5e