![]() |
| ungkapfakta.info |
TULANG BAWANG — Kebencian dan penghinaan terhadap profesi wartawan yang disuarakan Makmun Serbaguna kini ternyata didukung secara terbuka oleh pihak yang tak lain adalah pengikut setianya sendiri Hendri, yang bekerja di PT Sanmus Jasa Mandiri dan tercatat sebagai tim pengawal.
Di kolom komentar media sosial, Hendri tak segan‑segan menyuarakan dukungan sekaligus penghinaan yang sangat kasar dan tak pantas keluar dari mulut warga negara yang beradab, “Jangan takut Makmun lawan jika kita benar memang wartawan itu sampah masyarakat.”
Ucapan yang begitu rendah, merendahkan, dan melecehkan seluruh insan Pers tanpa terkecuali itu pun langsung mendapat tanggapan tajam dari warga net yang menyadari keliru dan berbahayanya pernyataan tersebut. Arya Putra Pratama menegaskan dengan tegas, “Hendri saya orang balam, melihat komen kamu seolah olah kamu ini udah hebat, kamu jadi jongos PT aja belagu, gak usah bilang bilang wartawan sampah, kampang kamu sir kita ketemu di mana babi kamu, klu kamu orang Lampung saya juga orang Lampung gak usah sok sokan.”
Tanggapan itu menyentuh inti persoalan yang sebenarnya: Hendri bukan sekadar berbicara atas kemauannya sendiri ia bertindak sebagai jongos Makmun Serbaguna, sekadar pengikut yang membawa api kebencian dan penghinaan tuannya ke ruang publik.
Ia merasa hebat dan berkuasa di balik nama tuannya, berani melontarkan kata‑kata kasar serta merendahkan profesi yang dilindungi undang‑undang, namun begitu dihadapi dengan tegas gaya bahasanya yang sombong dan belagu itu runtuh sendiri.
Perlu ditegaskan kembali dengan tegas: Insan Pers sama sekali tidak membahas maupun menuntut terkait masalah tanah. Masalah tanah adalah urusan perdata yang terpisah pemilik sah telah melaporkan perkara tersebut ke pihak berwajib dan memasang plang di lokasi, dan itu harus diselesaikan melalui jalur hukum yang telah tersedia.
Yang dituntut dan sedang diproses secara hukum adalah perbuatan Makmun Serbaguna beserta pendukungnya termasuk Hendri yang telah menghina, merendahkan, dan menyerang kehormatan profesi wartawan secara luas, menyebutnya “sampah masyarakat”, dan berusaha membenarkan perbuatan itu dengan alasan apa pun juga. Hal ini telah dilaporkan secara resmi ke Polres Tulang Bawang, dan proses hukumnya sedang berjalan.
Menjadi pengikut itu boleh menjadi pengikut yang buta, yang membenarkan segala perbuatan tuannya sekalipun itu salah dan melanggar hukum, itu bukan kesetiaan itu kehilangan akal sehat dan harga diri sendiri. Menjadi jongos berarti tak punya pendirian sendiri, tak punya keberanian sendiri, tak punya suara sendiri sekadar mengulang kata‑kata tuannya, menebarkan kebencian tuannya, dan akhirnya menanggung akibat perbuatan tuannya juga. Hendri berani menghina profesi Pers di kolom komentar Arya Putra Pratama dan banyak warga lainnya pun berani menegurnya di tempat yang sama, menegaskan bahwa kebencian dan penghinaan itu takkan pernah diterima oleh masyarakat yang beradab.
Profesi wartawan adalah Pilar Keempat Demokrasi dilindungi undang‑undang, dihormati oleh negara, dan dibutuhkan oleh masyarakat agar kebenaran tetap terjaga. Menghina profesi itu berarti menghina demokrasi, menghina hukum, dan menghina masyarakat yang berhak mengetahui kebenaran.
Dan itu bukan perbuatan yang bisa dimaafkan begitu saja terlebih dahulu bagi mereka yang melakukannya secara sadar, dan terlebih lagi bagi mereka yang melakukannya atas nama orang lain, menjadi jongos yang tak menyadari bahwa ia sedang menyerang dirinya sendiri.
Siapa yang sebenarnya salah dan siapa yang benar biarkan fakta yang berbicara di hadapan pihak berwajib. Namun satu hal yang sudah jelas di hadapan semua orang: Hendri berani melontarkan kata‑kata kasar dan merendahkan profesi orang lain di kolom komentar, namun begitu dihadapi dengan tegas ia tak mampu membela ucapannya sendiri dengan argumen yang masuk akal.
Itu bukan keberanian itu sekadar keberanian di balik layar, keberanian yang dipinjam dari tuannya, yang akan lenyap begitu ia diminta bertanggung jawab atas ucapannya sendiri di hadapan hukum. Dan kebenaran itu tetap berdiri tegak tak peduli seberapa banyak jongos yang dikirim untuk menutupinya sekalipun.
Pewarta: Yantoni
.png)

.png)

