Ungkapfakta.info // Lampung, -- Kodam XXI Radin Inten menggelar salat gaib dan doa bersama sebagai bentuk duka cita serta solidaritas atas bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang menimpa prajurit Marinir TNI Angkatan Laut.
Salat gaib berlangsung di Masjid Makodam XXI Radin Inten, Kota Bandarlampung, Selasa (27/1/2026) sore. Kegiatan tersebut diikuti para prajurit TNI yang dengan khusyuk memanjatkan doa bagi para korban jiwa.
Doa secara khusus dipanjatkan untuk prajurit Marinir yang gugur akibat tertimbun material longsor saat menjalankan tugas. Dalam suasana khidmat, para prajurit berbaris rapi menunaikan salat gaib, memohon agar para korban mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.
Kegiatan ini menjadi wujud empati dan solidaritas TNI, khususnya kepada prajurit Batalyon Infanteri 9 Marinir “Beruang Hitam” yang menjadi korban saat menjalani kegiatan latihan dan penugasan.
Pangdam XXI Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi menegaskan, TNI terus memberikan dukungan penuh dalam penanganan bencana tersebut, baik melalui pengiriman personel maupun penyaluran bantuan kemanusiaan sesuai kebutuhan di lapangan.
“TNI akan selalu hadir untuk membantu masyarakat dan keluarga korban, baik dalam penanganan darurat maupun pemulihan pascabencana,” tegas Kristomei.
Sebelumnya, sebanyak 23 prajurit Marinir TNI Angkatan Laut dilaporkan tertimbun longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Penanganan dan pendataan korban dari unsur TNI dilakukan secara terpisah dari pendataan korban sipil.
Incident Commander longsor Desa Pasirlangu, Ade Zakir, mengatakan pendataan korban sipil dan korban dari unsur TNI ditangani oleh tim yang berbeda.
“Itu di luar Basarnas kami. Pendataan korban TNI tidak masuk ke sini karena ada tim khusus yang menangani,” ujar Ade Zakir di lokasi kejadian.
Hal senada disampaikan Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman. Menurutnya, penanganan korban dari unsur TNI sepenuhnya dikoordinasikan dengan institusi militer.
“Koordinasinya dengan pihak Kodam dan TNI. Kami fokus pada pencarian 84 warga. Dalam praktiknya tetap bersinergi, tetapi data korban TNI ditangani sendiri,” kata Herman.
Sementara itu, tim SAR gabungan masih melanjutkan upaya pencarian korban longsor, baik dari kalangan sipil maupun prajurit TNI, dengan pola kerja dan komando yang berbeda sesuai kewenangan masing-masing institusi.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya membenarkan jumlah prajurit Marinir yang tertimbun longsor tersebut.
Hingga Senin (26/1/2026), empat personel telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara 19 prajurit lainnya masih dalam pencarian.
“Memang terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor. Saat ini baru empat personel ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dan yang lainnya masih dalam proses pencarian,” ujar Ali saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.
Ia menegaskan, proses pencarian dan evakuasi terhadap prajurit Marinir TNI Angkatan Laut akan terus dilakukan secara maksimal oleh tim terkait. (*)

.png)


.png)

