Mamuju Tengah -Ungkapfakta- Pemerintah Desa Barakkang, Kecamatan Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah, hingga awal tahun 2026 masih memfokuskan proses persiapan pendirian koperasi desa. Saat ini, koperasi tersebut belum berjalan sepenuhnya karena masih berada pada tahap pencarian dan penetapan lahan yang akan digunakan
untuk pembangunan gedung koperasi maupun alternatif berupa gerai usaha.
Hal tersebut disampaikan oleh Milhan T. Uwaneto yang mewakili Kepala Desa Barakkang Bahrum, saat ditemui pada Jumat (23/1/2026).
“Untuk koperasi, saat ini kami masih dalam proses. Belum berjalan sepenuhnya karena kami masih terfokus pada pencarian lahan yang akan ditempati, baik untuk pembangunan gedung koperasi maupun kemungkinan gerai,” ujarnya.
Menurut Milhan dalam proses tersebut pihak desa juga telah didatangi dan diawasi oleh berbagai pihak, termasuk unsur Koramil,
sebagai bentuk pengawasan dan pendampingan. Ia optimistis dalam waktu dekat akan ada titik terang terkait lokasi yang akan ditetapkan.
sejumlah potensi dan kegiatan unggulan. Salah satunya melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bergerak di sektor ketahanan pangan, khususnya pengembangan ikan air tawar. Selain itu, terdapat pula kegiatan ekonomi kreatif yang dikelola oleh kelompok ibu-ibu yang bekerja sama dengan pelaku usaha lokal, memproduksi olahan berbahan dasar jahe dengan merek “Tawa Jahe”.
Dari sisi kondisi sosial ekonomi, Milhan menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat Desa Barakkang telah memiliki pekerjaan dan penghasilan yang relatif mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
“Jumlah penduduk Desa Barakkang saat ini sekitar 2.018 jiwa dengan total 461 kepala keluarga yang tersebar di empat dusun, yaitu Dusun Barakkang, Dusun Kayu Sappu, Dusun Kayu Colok, dan Dusun Palopo,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kondisi geografis desa, khususnya Dusun Palopo, yang letaknya cukup jauh dari pusat desa induk dan masih membutuhkan perhatian serius terkait akses
transportasi darat maupun jalur air.
Terkait pembangunan desa tahun 2026, Milhan mengungkapkan bahwa tidak ada program pembangunan fisik yang direncanakan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan anggaran yang diterima desa.
“Untuk tahun 2026 ini, kami tidak memiliki program pembangunan fisik karena dari sisi anggaran sangat terbatas. Dari total dana desa sekitar Rp800 juta lebih pada tahun sebelumnya, kini yang tersisa hanya sekitar Rp287 juta,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, anggaran yang ada hanya difokuskan pada program pemberdayaan masyarakat, sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) yang berlaku, termasuk kegiatan koperasi, ketahanan pangan, dan kebutuhan operasional kantor desa.
Milhan berharap ke depan kondisi anggaran desa dapat membaik, sehingga pembangunan dan pengembangan desa dapat berjalan lebih optimal.
“Kami berharap ke depan anggaran tidak terus menurun seperti ini. Dampaknya sangat terasa terhadap perkembangan desa. Target kami sebelumnya, Desa Barakkang yang telah naik status dari desa berkembang menjadi desa maju pada 2025, bisa menuju desa mandiri. Namun dengan keterbatasan anggaran, hal itu belum dapat kami penuhi,” tutupnya.
(Rosmiani)
.png)
.png)
