• Jelajahi

    Copyright © Ungkap Fakta
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

     


    Iklan

    Iklan

    Halaman

    BPD KKLR Gelar Seminar Atasi Ancaman Banjir Langganan di Lutra

    Kamis, 14 Mei 2026, Mei 14, 2026 WIB Last Updated 2026-05-14T09:18:40Z
    masukkan script iklan disini




    SULSEL, Ungkapfakta.info - 

    Menangani banjir yang selalu langganan (berulang) memerlukan kombinasi tindakan fisik (struktural) dan non struktural atau kebijakan atwu perilaku yang konsisten. Ini banjir berulang seringkali disebabkan oleh kombinasi alam/lahan.


    Hal ini terungkap pada Rabu 13 Mei 2026 kemarin di Seminar Nasional Penanggulangan Banjir di Masamba Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel), yang digagas oleh BPD Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Lutra bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara.


    Hal ini diungkapkan Drs. Baharuddin Solongi, yang juga dosen di Universitas Andi Djemma (UNANDA) Palopo sekaligus Koordinator Tim Kajian dan Pendalaman Potensi SDA, Tata Ruang dan Pembangunan Wilayah, pada media ini, Kamis 14 Mei 2026.


    Dimana bencana banjir di Bumi La Maranginang julukan Kabupaten Lutra menyebabkan kerusakan rumah, lahan pertanian, jalan, jembatan, dan fasilitas publik. Aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh, pendidikan terganggu, serta risiko penyakit meningkat. 


    " Selain menimbulkan korban jiwa dan trauma sosial, banjir juga memperparah kemiskinan, merusak lingkungan, memicu sedimentasi sungai, dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap tata kelola pembangunan serta mitigasi bencana pemerintah daerah," sebutnya.


    Banjir yang terus berulang di Lutra sesungguhnya bukan sekadar persoalan curah hujan tinggi." Di balik meluapnya sungai, rusaknya rumah warga, lumpuhnya aktivitas ekonomi, dan terendamnya lahan pertanian, terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar yakni, krisis tata kelola lingkungan dan pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan ekologis," tambah Wakil Ketua Pengurus Pusat Kerukunan Luwu Raya.


    Tragedi banjir bandang Masamba beberapa tahun lalu, seharusnya menjadi pelajaran besar bahwa alam memiliki batas daya dukung. Ketika hutan di kawasan hulu rusak, daerah resapan air menyusut, sedimentasi sungai meningkat, dan permukiman terus tumbuh di kawasan rawan banjir, maka bencana hanya tinggal menunggu waktu.


    Hari ini, sebagian wilayah di Lutra masih menghadapi ancaman banjir musiman. Bahkan di beberapa titik, banjir tidak lagi dipandang sebagai peristiwa luar biasa, melainkan mulai dianggap sebagai rutinitas tahunan. Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat melahirkan normalisasi terhadap bencana.


    Secara ilmiah, Baharuddin Solongi mengatakan bahwa, banjir di Bumi La Maranginang (Lutra) dipengaruhi oleh kombinasi perubahan iklim global dan kerusakan ekosistem lokal. Intensitas hujan ekstrem meningkat akibat perubahan iklim, sementara kemampuan lingkungan menyerap air justru semakin menurun. Sungai yang dahulu mampu menampung debit air kini mengalami penyempitan dan pendangkalan akibat sedimentasi.


    Olehnya itu, solusi penanganan banjir tidak cukup hanya dengan pembangunan tanggul atau pengerukan sungai secara sementara. Yang dibutuhkan yakni, perubahan paradigma pembangunan berbasis mitigasi bencana dan ketahanan lingkungan.


    "Pemerintah perlu menjadikan rehabilitasi kawasan hulu daerah aliran sungai sebagai agenda prioritas jangka panjang. Reboisasi, perlindungan hutan, pengawasan pembukaan lahan, dan pengendalian aktivitas eksploitasi sumber daya alam harus dilakukan secara konsisten. Menjaga hutan pada hakikatnya adalah menjaga keselamatan masyarakat di wilayah hilir," ujarnya.


    Tambah Baharuddin Solongi bahwa, penataan tata ruang harus dilakukan secara tegas dan ilmiah. Permukiman di kawasan rawan banjir perlu dievaluasi secara bertahap. Jangan sampai kepentingan ekonomi jangka pendek justru memperbesar risiko korban di masa depan," terangnya.


    Di sisi lain, pembangunan infrastruktur pengendali banjir tetap diperlukan, mulai dari tanggul permanen, kolam retensi, embung pengendali air, hingga sistem drainase terpadu di kawasan perkotaan. Namun infrastruktur tanpa pemulihan ekologi hanya akan menjadi solusi sementara.


    Hal yang tidak kalah penting adalah membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Pendidikan lingkungan, simulasi kebencanaan, serta penguatan desa tangguh bencana harus menjadi gerakan bersama. Bencana tidak dapat sepenuhnya dihindari, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi jika masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang baik.


    Kabupaten Luwu Utara, sesungguhnya memiliki potensi besar untuk menjadi daerah yang tangguh terhadap bencana. Namun hal itu hanya dapat terwujud jika pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan mampu bekerja secara kolaboratif dan berorientasi jangka panjang.


    Kita harus menyadari bahwa banjir bukan semata persoalan alam, melainkan juga cermin dari cara manusia memperlakukan lingkungan. Ketika alam terus ditekan tanpa kendali, maka bencana sesungguhnya adalah bentuk peringatan yang tidak boleh diabaikan.


    " Menyelamatkan Luwu Utara dari banjir berulang berarti menyelamatkan masa depan generasi yang akan datang," pesannya.


    Ega/Yustus

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    https://www.profitableratecpm.com/knzuikf5dh?key=c788dca60ab1d7a8d48523714ff94c5e