Nias utara, ungkapfakta.info
Kapal tanker yang membawa ribuan ton aspal cair karam di perairan Tugala Oyo, Kepala Dinas perikanan dan kelauatan Nias Utara Banyak menyelewengkan Bantuan dari Owner pemilik kapal Hingga nelayan hilang mata pencarian, tidak bisa melaut diakibatkan tumpahan aspal cair.Aspal cair mencemari lautan Nias Utara pada tahun 2023 hingga nelayan tidak bisa melaut, hilang seketika mata pencarian mereka. Kapal tanker tersebut MT AASIH datang dari ke bangsaan Gabon India yang mengangkut aspal cair ribuan ton hingga karam di lautan Tugala Oyo,Nias Utara.
Cemarin lautan Nias Utara aspal hingga hilang mata pencarian nelayan Nias Utara, seluruh alat tangkap ikan nelayan seperti jaring, pancing dll tidak bisa untuk mencari ikan.
Dengan adanya kejadian tersebut pemerintah daerah Nias Utara mengambil langkah untuk meminta pertanggung jawaban dari owner pemilik kapal tersebut AL PHORNIX SHIP MANAGEMENT FZE +971529820222 Executive Office-D1-313, Ajman Free Zone, Ajman, UAE.
Dengan keberhasilan pemda menyampaikan kerugian yang dialami oleh nelayan Nias Utara beberapa kecamatan di Nias Utara telah terkabulkan.
Sehingga pendanaan kepada masyarakat telah tercairkan melalui rekening kas umum daerah. Namun demikian pembagian dana tersebut kepada nelayan yang benar-benar membutuhkan tidak sesuai dengan survei di lapangan, yang mana alatnya rusak tapi penerimaannya bervariasi dari Rp800.000 ke Rp3.500.000. Pembuktian itu dapat kami buktikan, baik secara surat yang langsung ditanda tangani oleh masyarakat, juga video yang langsung mereka sampaikan keluhan-keluhan yang mereka alami.
Dan perlu juga kami beritahukan bahwa penanda tanganan surat dari.BPC Himpunan Nelayan disangsikan bukan tanda tangan yang bersangkutan adalah tanda tangan yang di palsukan.
Akhir-akhir pekan ini banyak nelayan yang berbincang-bincang tentang kapal tanker yang tiga tahun lalu karam di Nias Utara. Kami yang berprofesi media online menanggapi isu perbincangan warga, bahwasanya ada dulu bantuan nelayan dari perusahaan kapal melalui pemerintah daerah Nias Utara.
Informasi yang kami peroleh dari masyarakat Walo, Desa Afulu, Kecamatan Afulu, Kabupaten Nias Utara, pemerintah daerah berhasil mengusulkan bantuan nelayan lewat pemerintah pusat di perusahaan pemilik kapal MT AASIH yaitu kurang lebih 8.900.000.000
Sebelum kami meyakini informasi dari masyarakat, terlebih dahulu kami mendata masyarakat yang pekerjaannya sebagai nelayan untuk memastikan kebenarannya. Yakni kami mendata dan meminta KTP untuk dicocokkan NIK. Ternyata bantuan ini diselewengkan tidak tepat sasaran untuk nelayan Nias Utara.
Di mana kami mengungkap penjelasan uang bantuan yang 9 miliar itu, adalah banyak data yang dikarang-karang hingga dibuat data nelayan lebih 3.300.lebih
Setelah kami menanyakan ke warga nelayan khususnya warga Walo Desa Afulu Kecamatan Afulu, uang yang mereka dapat adalah hanya Rp1.000.000 (satu juta rupiah), sementara bantuan 9 miliar.
Lalu kami pergi ke Desa Faekhu Naa, Salonako, Kecamatan Afulu untuk mendata nelayan lain. Ternyata mereka dua kali tahap mendapatkannya.
Banyak diiming-imingi sebelumnya dan dijanjikan bahwa nanti uang yang didapat lumayan besar. Ternyata pertama mereka mendapatkan hanya Rp1.000.000. Karena warga Faekhu Naa mencurigakan dan tidak puas dengan janji di lapangan, mereka mendatangi kantor DPRD Nias Utara sampai melakukan demo. Sehingga permintaan mereka dikabulkan dan di sana dibayarkan tambahan sebesar Rp2.500.000. Hingga total yang mereka dapat adalah Rp3.500.000 (tiga juta lima ratus ribu rupiah).
Sedangkan di Kecamatan Lahewa hanya dapat Rp1.000.000 (satu juta rupiah), dan mereka tidak ikut demo seperti warga Faekhu Naa. Mereka hanya pasrah saja dengan apa yang mereka dapatkan.
Perhitungan kami di lapangan, jumlah nelayan di Nias Utara paling banyak sekitar 1.500 orang. Sedangkan data yang dibuat oleh kadis kelautan berkisar 3.300 orang, agar uang bantuan nelayan ini dengan gampang dikorupsikan.
Salah seorang yang kami temui di Tureloto, Kecamatan Lahewa, bernama inisial AG, mengatakan dirinya selaku koordinator lapangan yang membagi uang untuk nelayan.
Dikatakannya, pembagian uang para nelayan Tureloto tersebut rata-rata hanya satu juta rupiah untuk semua anggota nelayan di sana, dan dia mengatakan dana itu tidak lewat pemerintah daerah, melainkan langsung masuk ke rekeningnya sendiri.
Sedangkan pada tanggal 13 Mei 2026 sekitar pukul 13.30 WIB, di daerah kantor bupati kami menemui Sabar Jaya Telaumbanua, Kadis Perikanan dan Kelautan Kabupaten Nias Utara. Beliau mengatakan kalau dana bantuan nelayan sebesar 9 miliar itu adalah usulan pemerintah daerah kepada pemilik kapal asing tersebut, dan hingga dikabulkan dikirim melalui rekening kas umum daerah(RKUD) 272.01.02.000064-0. Pada PT Bank Sumut kantor cabang pembantu lotu kabupaten Nias Utara.
Kongkalikong bahasa Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Nias Utara, yang katanya pemerintah tidak tahu-menahu berapa mereka bagikan uang itu. Yang mengetahui hanyalah koordinator lapangan. Sedangkan data yang ada pada kami, banyak data yang bukan nelayan, hanya akal-akalan supaya mengelabui semua nelayan yang sesungguhnya.
Demikian juga di daerah Sawo, Kecamatan Tuhemberua, Nias Utara. Ketua kelompok nelayan, Irwanto Zebua, mengatakan bahwa bantuan tersebut pembagiannya tidak merata.
“Tidak adil,” ujarnya. Banyak yang diselewengkan. Mereka hanya mendapatkan Rp800.000 (delapan ratus ribu rupiah) saja. Sedangkan alat tangkap mereka banyak yang rusak akibat tumpahan aspal tersebut, hingga tidak dapat melaut dan kehilangan mata pencarian mereka.
Informasi dari masyarakat yang kami dengar, Kepala Dinas Kelautan Sabar Jaya Telaumbanua mau urus pindah tugas ke provinsi agar rekam jejaknya aman dan tidak ketahuan, yang selama ini diduga banyak permainan di dinas tersebut.
Sehingga ada informasi bisik-bisik masyarakat bahwa kapal boat pemerintah Kabupaten Nias Utara hilang begitu saja, dialasankan tenggelam. Sedangkan menurut masyarakat itu sudah tidak benar, bisa saja hanya alasan. Kapal boat itu sedang diselidiki.
Dengan adanya bukti yang telah kami himpun di lapangan, sudah cukup bukti untuk membuat laporan pengaduan ke Kajari Gunungsitoli dan Kajatisu. Seluruh masyarakat yang telah kami ambil data, mereka bersedia untuk memberi kesaksian di depan pengadilan.
Sangat apresiasi warga Sawo, Desa Sawo, Kecamatan Sawo, Nias Utara. Nelayannya cukup sabar dengan banyaknya alat tangkap ikan mereka yang telah rusak akibat aspal cair dari kapal MT AASIH, dari kebangsaan Gabon.
Mereka semua mengatakan bersedia bila didatangkan ke Dinas Perikanan dan Kelautan Nias Utara untuk menanyakan hak mereka.
Kasus ini dipastikan pencucian uang, karena banyak data yang bukan profesi nelayan.

.png)
.png)
