Tanggal 2 Mei dipilih untuk mengenang kelahiran Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional. Sejak ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, Hardiknas menjadi simbol komitmen bangsa dalam membangun pendidikan yang merata dan berkualitas.
Namun pada 2026, Hardiknas hadir dengan wajah berbeda. Pemerintah menegaskan bahwa peringatan ini harus melampaui seremoni—menjadi gerakan kolektif untuk memperkuat kualitas pendidikan nasional.
kadis Pendidikan Kab Asahan Musa al bakrie SE M.Si. Mengatakan "Satuan pendidikan diminta tetap menyelenggarakan upacara bendera sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai pendidikan nasional.
Tak hanya itu, sekolah juga diarahkan menggelar kegiatan yang efektif dan bermakna, selaras dengan gerakan Indonesia ASRI—Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Prinsip hidup sederhana dan hemat energi.. Tuturnya.
Serta Keamanan Jadi Priorioritas.
- memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib
- mempertimbangkan kondisi wilayah masing-masing
- melakukan pemetaan serta identifikasi potensi risiko.
Selain itu, seluruh kegiatan dianjurkan dilaksanakan di lingkungan sekolah dengan pengawasan pihak sekolah, guna menjamin keamanan peserta didik dan tenaga pendidik
Pedoman Hardiknas 2026 juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh warga sekolah.
Guru, tenaga kependidikan, dan siswa didorong untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan. Siswa tidak hanya hadir dalam upacara, tetapi juga diarahkan mengikuti aktivitas yang mendukung pengembangan potensi diri secara positif dan konstruktif.
Musa al bakrie Kadis pendidikan Kab Asahan menutup dengan mengatakan " Hardiknas selama ini identik dengan upacara bendera. Namun, kebijakan tahun ini menunjukkan perubahan paradigma.
- ruang refleksi bersama
- ajang penguatan karakter siswa
- momentum memperbaiki kualitas pendidikan
Pendekatan berbasis partisipasi, efisiensi, dan keamanan menandai bahwa sistem pendidikan Indonesia sedang bergerak menuju arah yang lebih adaptif
Di era digital dan disrupsi teknologi, tantangan pendidikan semakin kompleks. Kesenjangan akses, kualitas pembelajaran, hingga kesejahteraan guru masih menjadi pekerjaan rumah.
Jika sebelumnya Hardiknas hanya menjadi rutinitas tahunan, kini saatnya menjadikannya sebagai titik tolak perubahan nyata bagi masa depan pendidikan Indonesia. Tuturnya"
WK, SH

.png)
.png)
