Pangkep –Ungkap Fakta- (6/5/2026) SMA Terbuka di bawah naungan UPT SMAN 10 Pangkep terus bertransformasi menjadi solusi pendidikan yang adaptif dan inklusif. Dengan semangat "sumur yang mencari timba", lembaga ini hadir mendekatkan layanan belajar kepada masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan waktu, jarak, atau kondisi khusus.
Saat ini, sekolah memiliki total 626 siswa yang didukung oleh 45 tenaga pendidik. Pembelajaran diselenggarakan dalam jenjang kelas yang fleksibel, mulai dari setara kelas 10 hingga 13, disesuaikan dengan kesiapan dan kemampuan masing-masing peserta didik.
Berbeda dengan sekolah reguler, kehadiran siswa di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) tidak bersifat wajib setiap hari dan sangat bergantung pada situasi masing-masing. Namun, antusiasme masyarakat cukup tinggi, terlihat dari jumlah peserta tatap muka yang sudah mencapai lebih dari 100 orang.
"Kita buka kelasnya ada yang kelas 10, 11, 12, bahkan sampai kelas 13, itu dihitung berdasarkan kesiapan mereka. Kalau di TKB, jumlahnya tidak menentu, tergantung situasi dan kondisi siswanya," ungkap Kepala UPT SMAN 10 Pangkep, Imran, S.Pd., M.M.
Untuk mendukung kelancaran belajar, diterapkan dua pendekatan utama:
Pembelajaran Daring: Siswa dapat mengikuti kelas langsung via Zoom sesuai jadwal, atau mengakses materi video pembelajaran kapan saja—bahkan di malam hari setelah pulang kerja.
Guru wajib berkunjung ke TKB minimal 2 kali sebulan untuk memberikan bimbingan langsung, meskipun saat ini biaya transportasi sudah tidak ditanggung dan menjadi bagian dari manajemen sekolah.
Mengetahui banyak siswa tinggal di daerah kepulauan dengan akses internet yang tidak stabil, sekolah menyiasati dengan menyediakan materi dalam bentuk video yang bisa diunduh atau ditonton saat sinyal sedang baik.
"Kami menyadari tantangan di lapangan, terutama di pulau-pulau. Makanya materi dibuat dalam bentuk video agar bisa diakses fleksibel. Untuk ujian pun kami koordinasi dengan sangat hati-hati agar bisa berjalan tepat waktu," tambah Imran.
Sekarang ini Kondisi pengelolaan mengalami perubahan signifikan sejak 3-4 tahun terakhir. Dulu, SMA Terbuka dibiayai penuh oleh pemerintah termasuk fasilitas seragam, namun sejak tahun 2023, pengelolaannya dialihkan ke bawah naungan SMA umum.
"Dulu sistemnya berbeda, sekarang peran guru lebih fokus sebagai tenaga pengajar dengan tugas tambahan pelayanan yang lebih luas. Meskipun ada perubahan, kami tetap berkomitmen menjaga kualitas dan terus berupaya meningkatkan akreditasi," jelasnya.
Meskipun sistemnya terbuka, hasil belajar tetap menunjukkan prestasi yang membanggakan. Untuk tahun 2025, rata-rata skor UTBK dan SMBTN cukup baik, dengan beberapa siswa berhasil diterima di perguruan tinggi negeri.Pungkas Kepala UPT SMAN 10 Pangkep Imran.S,Pd.M,M.
Penulis: Kul indah.

.png)
.png)
