Bima, Ungkapfakta.info –
Perkebunan Kopi Tambora yang terletak di lereng Gunung Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu sentra penghasil kopi yang pernah berjaya di Indonesia. Perkebunan ini memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda dan pernah menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi masyarakat di sekitar kawasan Tambora.
Pada masa kejayaannya, Perkebunan Kopi Tambora memiliki luas sekitar 500 hektare dengan produksi mencapai kurang lebih 250 ton kopi per tahun di bawah pengelolaan PT Bayuaji Bima Sena. Namun, setelah pengelolaannya diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten Bima, produksi kopi mengalami penurunan yang sangat drastis hingga hanya sekitar 20 ton per tahun.
Seiring menurunnya produksi, kondisi perkebunan semakin memprihatinkan. Lahan yang sebelumnya ditanami kopi kemudian beralih fungsi menjadi lahan pertanian jagung. Proses alih fungsi tersebut disebut terjadi pada masa kepemimpinan Kepala Desa Oi Bura, Wahyudin.
Selanjutnya, pada masa kepemimpinan mantan Kepala Desa Abdullah, kebun kopi yang merupakan aset negara tersebut dibagikan kepada masyarakat. Akibatnya, perkebunan kopi yang dahulu menjadi kebanggaan masyarakat setempat kini hampir tidak lagi menyisakan jejak sebagai sentra produksi kopi.
Perubahan fungsi lahan tersebut menimbulkan keprihatinan berbagai pihak. Banyak masyarakat menilai Perkebunan Kopi Tambora yang memiliki nilai sejarah dan potensi ekonomi besar seharusnya dapat dipertahankan serta dikelola secara profesional agar kembali menjadi salah satu komoditas unggulan daerah, bukan justru hilang akibat perubahan fungsi lahan.
.png)
.png)
