![]() |
| ungkapfakta.info |
Lampung Tulang Bawang — Ikatan rumah tangga yang dibina selama lebih dari dua puluh tahun, seharusnya menjadi benteng yang tak tergoyahkan dalam suka maupun duka. Namun kenyataannya memprihatinkan: ketika sang suami sedang berada di titik terendah dan terpuruk dalam keadaan, justru di saat itulah sang istri memilih untuk tidak kembali pulang.
Alih-alih menjadi pendamping yang menguatkan di masa sulit, ia justru mencari alasan untuk tidak memaafkan, bahkan menyuruh suaminya menikah lagi dengan orang lain seolah-olah keterpurukan suami adalah alasan sah untuk melepaskan ikatan yang sudah dirajut puluhan tahun.
Yang lebih menyakitkan, keluarga besar baik kakak, adik, paman, maupun bibi bukannya menasihati dan mengingatkan akan janji di hadapan Allah, justru mendukung perpisahan itu. Ikatan sosial dan spiritual yang sudah dibina selama lebih dari dua dekade, seakan diabaikan begitu saja hanya karena keadaan sedang tidak berjalan mulus.
Aprilya Chantycha, selaku anak kandung, menyampaikan pernyataannya dengan penuh kepedihan namun tegas.Red
"Sudah lebih dari dua puluh tahun Bapak dan Ibu membina rumah tangga ini. Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk melewati suka dan duka bersama".
Tapi kenapa justru di saat Bapak sedang terpuruk, di saat beliau paling butuh pendampingan dan dukungan, Ibu malah memilih untuk tidak pulang? Menolak memaafkan, bahkan menyuruh Bapak menikah lagi dengan orang lain itu bukan kasih sayang, itu bukan jalan keluar. Itu justru cara melepaskan tanggung jawab di saat beban paling berat.
Dan kenapa Paman, Bibi, Kakak, serta Adik justru mendukung perpisahan ini? Bukankah seharusnya keluarga menjadi penasihat yang mengingatkan akan janji suci di hadapan Allah? Nikah itu bukan hanya saat senang, bukan hanya saat kaya nikah itu justru diuji saat susah, saat jatuh, saat tak ada tempat berpijak selain bahu pasangan sendiri.
Kalau ikatan dua puluh tahun lebih bisa diputus begitu saja hanya karena keadaan berubah lalu di mana letak kesetiaan itu? Di mana letak iman yang sering diucapkan?
Allah Maha Tahu niat di balik setiap keputusan. Menyuruh menikah lagi padahal niatnya hanya ingin lepas itu bukan kebebasan, itu kebohongan.
Dan siapa pun yang mendukung perpisahan rumah tangga orang lain, turut menanggung dosanya di sisi-Nya.
Saya sebagai anak, melihat semuanya. Dan kelak, saat kesadaran datang, tak ada satu pun alasan yang bisa dijadikan pembenaran di hadapan Yang Maha Adil."
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa pernikahan dalam Islam adalah ikatan yang sangat suci, diucapkan di hadapan Allah, dan tidak boleh diputus sesuka hati hanya karena keadaan berubah.
Kesetiaan seorang istri tidak teruji saat suami berada di puncak kejayaan, melainkan saat suami berada di titik terendah. Dan keluarga yang seharusnya menjadi penopang, justru mendukung perpisahan itu adalah perbuatan yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Setiap keputusan yang diambil tanpa memikirkan keridhaan Allah, kelak akan kembali kepada pelakunya. Dan apa yang ditanam, itulah yang akan dipanen baik di dunia maupun di akhirat. Pungkasnya
Pewarta: Yantoni Tipikor
.png)

.png)

