Gangster Mengincar Pelajar Garut, Alarm Keras Bagi Sekolah dan Orang Tua
GARUT — Fenomena gangster yang melibatkan remaja di Kabupaten Garut bukan lagi sekadar persoalan kenakalan anak muda. Kondisi ini menjadi alarm keras bagi seluruh pihak bahwa ancaman terhadap generasi muda semakin nyata dan membutuhkan tindakan serius, bukan hanya sebatas imbauan.
Kepala KCD Wilayah XI, Santy Kurnia Dewi, S.Pd., M.Pd., menghimbau agar seluruh satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta pengawasan terhadap aktivitas peserta didik di luar lingkungan sekolah.
Lebih lanjut, Santy Kurnia Dewi menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperkuat koordinasi dengan sekolah-sekolah di wilayah Garut untuk memastikan penguatan pendidikan karakter berjalan optimal. Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi pergaulan anak, terutama di luar jam sekolah, agar tidak terjerumus dalam lingkungan yang negatif dan merugikan masa depan mereka.
Saat dimintai keterangan oleh wartawan UngkapFakta melalui hubungan seluler kepada Kapolres Garut, ia menyampaikan bahwa sebanyak 20 orang telah diamankan dari 25 tersangka yang diduga terlibat dalam kelompok gangster. Yang menjadi perhatian, mayoritas dari mereka masih berstatus sebagai pelajar. Kapolres Garut juga menegaskan bahwa momentum peringatan HUT RI ke-81 harus menjadi pengingat bersama bahwa kemerdekaan yang diraih para pahlawan harus diisi dengan hal-hal positif, bukan dengan tindakan yang merusak masa depan generasi muda. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan semangat kemerdekaan sebagai dorongan memperkuat persatuan, disiplin, dan menjauhi segala bentuk kenakalan remaja termasuk gengsterisme. Selain itu, Kapolres Garut menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan penindakan tegas terhadap kelompok gangster yang meresahkan serta mengajak orang tua untuk lebih aktif mengawasi anak-anaknya.
Fakta tersebut menjadi peringatan bagi dunia pendidikan bahwa pengawasan terhadap peserta didik harus semakin diperkuat. Jangan sampai pelajar yang seharusnya fokus belajar dan menyiapkan masa depan justru terjerumus dalam lingkungan pergaulan yang dapat merusak cita-cita.
Pencegahan terhadap pengaruh negatif kelompok gangster harus dilakukan secara bersama-sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Sekolah tidak hanya bertugas memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter, kedisiplinan, serta memberikan pemahaman tentang dampak buruk pergaulan yang salah.
Komunikasi antara sekolah dan orang tua menjadi kunci dalam menjaga peserta didik agar tidak terpengaruh oleh lingkungan negatif.
Sejalan dengan upaya pencegahan, sesuai Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang pemberlakuan jam malam bagi pelajar, orang tua memiliki peran penting untuk memastikan anak-anak tidak melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari tanpa tujuan yang jelas.
Pemberlakuan jam malam bukan sekadar aturan, tetapi menjadi langkah perlindungan terhadap generasi muda agar terhindar dari berbagai potensi gangguan keamanan, termasuk keterlibatan dalam kelompok gangster.
Sekolah juga dituntut memperkuat pembinaan melalui pendidikan karakter, kedisiplinan, kegiatan positif, serta pengawasan terhadap perilaku peserta didik. Peran guru, wali kelas, guru BK, dan orang tua harus berjalan seiring.
Masyarakat pun diharapkan ikut peduli terhadap lingkungan sekitar. Jangan sampai sikap tidak peduli membuat kelompok-kelompok yang meresahkan semakin berkembang.
Persoalan gangster di Garut harus menjadi perhatian bersama. Aparat melakukan penindakan, sekolah memperkuat pembinaan, dan orang tua memperketat pengawasan.
Karena masa depan generasi muda Garut tidak boleh dikorbankan oleh pengaruh kelompok yang membawa dampak negatif.
UngkapFakta Garut — Mengawal Fakta, Membuka Realita.
.png)

.png)

