![]() |
| ungkapfakta.info |
TULANG BAWANG, LAMPUNG – Suara genderang dan barisan peserta karnaval siswa SMP se-Kabupaten Tulang Bawang menghiasi jalanan pada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81. Terlihat megah, terasa riuh, namun di balik kemeriahan itu tersimpan tanda tanya besar yang mencerminkan ketidakpahaman makna kemerdekaan yang sesungguhnya.
Pesta yang Tak Sepadan dengan Kebutuhan Dasar Dana yang digelontorkan untuk menyelenggarakan karnaval antar sekolah ini dikabarkan mencapai angka yang fantastis. Padahal di saat yang sama, masih banyak sekolah di pelosok Tulang Bawang yang atapnya bocor, ruang kelas tak layak pakai, fasilitas belajar rusak, hingga buku pelajaran yang jumlahnya tak sebanding dengan jumlah siswa.
Apakah kemerdekaan patut dirayakan dengan pesta yang boros, sementara generasi penerus masih harus belajar di bawah keterbatasan yang menyedihkan?
Siswa Dijadikan Atraksi, Bukan Diajarkan Makna Berjuang Kegiatan ini justru terkesan hanya ajang pamer hiasan dan kostum belaka. Siswa disibukkan berlatih berhari-hari hanya untuk berjalan di jalanan, padahal waktu berharga itu seharusnya digunakan untuk mengejar ketertinggalan materi pelajaran. Mereka dipaksa menanggung lelah dan beban biaya orang tua, namun tak diajarkan bahwa kemerdekaan lahir dari pengorbanan, bukan dari kemewahan seremonial yang tak berfaedah.
Prioritas yang Terbalik Warga mempertanyakan akal sehat penyelenggara: mengapa urusan seremonial didahulukan, sementara urusan hak dasar pendidikan diabaikan? Kemerdekaan bukan berarti berjalan berbaris rapi di aspal, melainkan membebaskan anak bangsa dari kebodohan dan fasilitas yang memprihatinkan.
Karnaval ini membuktikan bahwa prioritas pemerintah daerah masih terbalik. Lebih mementingkan citra di permukaan, daripada menyelesaikan masalah nyata yang selama ini dirasakan dunia pendidikan di Tulang Bawang.
Pewarta: Yantoni
.png)

.png)

