Medan, Ungkapfakta.info
Peristiwa meninggalnya Winda Lorenza Gowasa (30) masih menjadi sorotan tajam publik dan menyisakan perbedaan pandangan mendalam antara pihak keluarga dengan hasil penyelidikan sementara kepolisian. Keluarga tegas menolak kesimpulan awal yang mengarah pada dugaan bunuh diri dengan senjata api dan yakin masih banyak kejanggalan yang belum terungkap. Sementara itu, Polrestabes Medan telah memaparkan serangkaian hasil pemeriksaan ilmiah sebagai dasar penyelidikan yang telah dilakukan.
Kabar menggembirakan sekaligus memberi harapan datang dari pengacara hukum ternama, Hotman Paris. Melalui percakapan lewat panggilan video, ia menyatakan bersedia mendampingi dan mewakili keluarga korban. Dengan tegas Hotman Paris berjanji akan mengusut kasus ini seterang-terangnya dan memperjuangkan kebenaran demi keadilan yang sesungguhnya. "Mari kita seluruh warga dan masyarakat luas saksikan bersama proses perjuangan kebenaran ini," seru keluarga yang kini merasa memiliki kekuatan lebih untuk memperjuangkan haknya.
Perbedaan pandangan ini membuat kasus terus dibicarakan luas. Pihak keluarga melalui kuasa hukum bahkan telah melaporkan dugaan tindak pidana pembunuhan ke Polda Sumatera Utara, mendesak penyidik mengusut perkara secara mendalam, menyeluruh, dan transparan agar seluruh fakta yang tersembunyi dapat terungkap sepenuhnya.
Banyak orang bertanya-tanya mengapa musibah ini bisa menimpa keluarga yang tampak serasi dan idaman: pasangan yang sama-sama berpenampilan menarik, telah dikaruniai dua orang putra, dan suami justru berprofesi sebagai pelindung masyarakat sebagai anggota kepolisian. Perasaan sedih dan bingung menyelimuti banyak pihak, seolah sulit menerima bahwa peristiwa kelam ini bisa terjadi di tengah upaya menyatukan kembali rumah tangga demi masa depan anak-anak.
Dari sisi keluarga, ditemukan sejumlah kondisi pada jenazah yang dinilai sangat bertentangan dengan ciri-ciri bunuh diri. Mereka menemukan adanya memar, luka, serta bekas lain yang memicu kecurigaan kuat adanya tindak kekerasan sebelumnya. Selain itu, proses penanganan jenazah pun dipertanyakan; keluarga merasa dibatasi ruang geraknya dan sulit mendokumentasikan kondisi jasad Winda sebelum dimakamkan.
Diketahui pula bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, Winda sedang berupaya merajut kembali hubungan dengan mantan suaminya, semata-mata demi kebahagiaan dan masa depan kedua putra mereka. Niat rujuk ini muncul atas keinginan anak-anak dan telah mendapat dukungan dari keluarga besar, sehingga terasa sangat ganjil dan memilukan ketika tiba-tiba berakhir dengan peristiwa kehilangan nyawa ini.
Sementara itu, Polrestabes Medan menjelaskan bahwa kesimpulan sementara dibangun secara bertahap dan cermat, berlandaskan olah tempat kejadian perkara, pemeriksaan saksi, penyusunan urutan kejadian, hasil autopsi medis, hingga pengujian di laboratorium forensik. Berdasarkan temuan tersebut, polisi menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kematian akibat pukulan benda tumpul atau tusukan benda tajam.
Secara medis dan ilmiah, dokter forensik menjelaskan luka yang diderita korban memiliki ciri khas luka tembak tempel, yaitu terjadi ketika moncong senjata ditempelkan langsung ke tubuh saat ditembakkan. Hasil pemeriksaan laboratorium juga menemukan residu sisa ledakan tembakan di tangan dan pakaian Winda, sementara pada mantan suaminya tidak ditemukan jejak serupa. Ditambah lagi, hasil uji balistik membuktikan peluru yang diambil dari tubuh korban adalah sama dan cocok dengan senjata api yang telah diamankan penyidik.
Meski dihadapkan pada rangkaian bukti ilmiah tersebut, keluarga korban tetap bersikeras meminta agar seluruh proses hukum dijalankan secara terbuka, jujur, dan tidak berat sebelah. Dengan dukungan hukum yang kuat, mereka menginginkan setiap alat bukti, keterangan saksi, serta hasil pemeriksaan dapat diuji ulang secara mendalam hingga tidak lagi menyisakan keraguan sedikit pun.Masyarakat luas pun ikut mengawasi jalannya proses hukum ini
.png)
.png)

