UngkapFakta | GARUT — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya menghadirkan makanan bagi siswa. Di balik setiap porsi yang disajikan, ada persoalan lain yang mulai menjadi perhatian SMKN 12 Garut: sisa makanan dan sampah yang muncul setelah kegiatan makan.
Menyadari potensi persoalan tersebut, SMKN 12 Garut kini mulai mengembangkan gerakan MBG Zero Waste. Program ini masih dalam tahap awal, dengan fokus membangun kesadaran dan kebiasaan warga sekolah untuk mengurangi sisa makanan, memilah sampah, serta menjaga kebersihan lingkungan setelah kegiatan MBG.
Langkah awal ini menjadi upaya sekolah agar pelaksanaan MBG tidak hanya memberikan manfaat dari sisi gizi, tetapi juga mulai memperhatikan dampak lingkungannya.
Memulai dari Hal Sederhana
Pada tahap awal, konsep Zero Waste diarahkan pada kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan siswa setiap kali selesai menikmati MBG.
Siswa mulai diperkenalkan dengan pentingnya mengurangi sisa makanan, memisahkan sisa makanan dari sampah kemasan, serta menjaga kebersihan area makan.
Sekolah juga mulai membangun pola pemilahan sampah agar limbah tidak langsung tercampur.
Belum sempurna, tetapi langkah tersebut menjadi titik awal. Yang sedang dibangun bukan sekadar sistem pengelolaan sampah, melainkan kebiasaan baru.
Dari Kebiasaan Menjadi Pembelajaran
SMKN 12 Garut melihat momentum MBG sebagai kesempatan untuk memberikan pembelajaran lingkungan secara langsung.
Siswa dapat melihat sendiri berapa banyak sampah yang muncul setelah kegiatan makan dan memahami bahwa perilaku sederhana, seperti menghabiskan makanan dan memilah sampah, memiliki dampak terhadap kebersihan sekolah.
Ke depan, pengembangan program dapat diarahkan pada pemanfaatan limbah yang memungkinkan untuk dikelola kembali sesuai kondisi dan kemampuan sekolah.
Dalam Semangat Sinergi KCD Wilayah XI
Langkah awal MBG Zero Waste di SMKN 12 Garut ditempatkan dalam semangat sinergi dengan KCD Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat dalam mendorong budaya sekolah yang bersih, sehat, dan peduli lingkungan.
Untuk saat ini, sekolah sedang membangun fondasi program melalui pembiasaan dan keterlibatan warga sekolah.
Kepala Sekolah: Jangan Tunggu Sampah Menumpuk
Kepala SMKN 12 Garut, Heryatno, S.Pd., MM., M.Si., MCE., mendorong agar persoalan sampah dari kegiatan MBG mulai ditangani sejak awal.
Menurutnya, membangun budaya peduli lingkungan harus dimulai dari kebiasaan sederhana dan dilakukan secara konsisten.
Karena itu, tahap awal MBG Zero Waste menjadi momentum untuk mengajak siswa memahami bahwa setelah makanan selesai disantap, masih ada tanggung jawab lain yang harus dilakukan.
Ini Baru Awal
SMKN 12 Garut menyadari bahwa membangun sistem Zero Waste tidak dapat dilakukan dalam satu hari.
Diperlukan pembiasaan, evaluasi, sarana pendukung, serta keterlibatan seluruh warga sekolah agar program berkembang secara konsisten.
Namun, langkah pertama sudah dimulai.
Dari meja makan, SMKN 12 Garut mulai membangun kesadaran baru: MBG bukan hanya tentang makanan yang masuk ke tubuh siswa, tetapi juga tentang bagaimana sekolah mengelola sisa yang ditinggalkannya.
MBG bergizi, sampah terkendali, dan budaya peduli lingkungan mulai ditanamkan dari sekolah.
UngkapFakta | Garut - Mengungkap Fakta, Mengawal Kebijakan Pendidikan
.png)

.png)

