![]() |
| ungkapfakta.info |
TULANG BAWANG — Hanya dalam hitungan jam setelah pemberitaan dimuat dan disebarluaskan, Darsi Octaviannty yang sebelumnya berani membongkar fakta secara terbuka, kini tiba-tiba berubah haluan drastis. Ia memohon agar namanya tidak lagi dibawa-bawa dalam pemberitaan, dengan alasan ketakutan yang sangat jelas, takut diserang oleh pendukung Makmun Serbaguna dan netizen, takut keluarganya dimarahi, bahkan takut ditegur oleh Kepala Sekolah. Padahal sebelumnya ia sendiri yang memberikan keterangan lengkap dan menjadi sumber utama pembongkaran fakta.
Dalam pesan terbaru yang terekam jelas, Darsi memohon, "Maaf bos, jangan bawa-bawa nama saya, nanti keluarga saya marah. Nanti saya diserang Makmun dan netizennya. Kena marah kepsek juga." Alih-alih mempertegas kebenaran yang sudah ia sampaikan sebelumnya, ia justru meminta agar pihak media menghubungi pengacara bernama Sultan Sumatra pihak yang memegang perkara tersebut atau menemui langsung pemilik sah tanah.
Perubahan sikap yang mendadak ini memunculkan pertanyaan tajam, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar? Apakah Darsi Octaviannty menerima tekanan, ancaman, atau bujukan dari pihak-pihak yang dekat dengan Makmun Serbaguna? Mengaku takut diserang oleh netizen dan pendukung Makmun, serta takut dimarahi Kepala Sekolah, bukanlah alasan yang meyakinkan bagi seseorang yang sebelumnya dengan berani menyampaikan fakta. Justru hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa pihak Makmun Serbaguna memiliki pengaruh dan kekuasaan yang cukup kuat untuk menekan orang-orang yang berani bersuara.
Jika apa yang disampaikan Darsi sebelumnya itu benar dan didukung bukti yang kuat, mengapa harus takut? Kebenaran seharusnya tidak perlu lari, tidak perlu sembunyi, dan tidak perlu dialihkan ke pihak lain. Sikap mundur secara terbirit-birit ini justru menimbulkan kesan bahwa ada pihak yang berusaha menutup jalur pengungkapan fakta dengan cara menekan narasumber hingga ia takut menyampaikan kebenaran secara terbuka.
Mengalihkan pertanyaan kepada pengacara atau pemilik sah memang langkah yang wajar dalam proses hukum, namun dilakukan bersamaan dengan permohonan agar nama tidak dimuat dan takut diserang, hal itu menjadi tanda tanya besar. Apakah pengacara yang ditunjuk itu benar-benar bekerja untuk keadilan, atau justru menjadi alat untuk menutupi kebenaran di ruang tertutup, jauh dari pengawasan publik?
Masyarakat berhak bertanya: seberapa besar pengaruh yang dimiliki Makmun Serbaguna, hingga orang yang mengetahui fakta saja sudah ketakutan namanya disebut? Sehingga harus menutup mulut, menarik kembali keterangan, dan meminta pihak lain yang berbicara. Jika ia bersih dan benar, seharusnya ia justru mendukung pengungkapan fakta, bukan membuat orang lain takut bersuara.
Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa kekuasaan dan pengaruh kadang-kadang digunakan bukan untuk menegakkan kebenaran, melainkan untuk membungkam suara yang berani berbeda. Dan ketika narasumber saja sudah takut, maka semakin berat pula tugas pers untuk menyampaikan kebenaran kepada publik namun itu bukan alasan untuk berhenti. Justru di saat orang lain takut, kebenaran harus semakin lantang disampaikan.
Pihak media tetap akan menelusuri fakta dari berbagai sumber, termasuk pengacara dan pemilik sah yang ditunjuk, karena kebenaran tidak bisa dibungkam oleh ancaman, tekanan, maupun permohonan yang muncul tiba-tiba setelah fakta terungkap luas.
Pewarta: Yantoni
.png)

.png)

