![]() |
| ungkapfakta.info |
TULANG BAWANG — Wajah asli Makmun Serbaguna kini terungkap sepenuhnya melalui unggahan yang dibuatnya sendiri. Di tengah upaya pihak lain yang berniat menempuh jalur hukum secara tertib dan terukur atas penghinaan terhadap profesi wartawan, Makmun justru berteriak menantang secara terbuka, "Lanjutkan yang mau memperkeruh suasana, saya tunggu…" sebuah pernyataan yang bukan meredakan, melainkan sengaja memancing eskalasi dan menabur api permusuhan di ruang publik.
Fakta berbicara sendiri: pihak yang merasa dirugikan justru menyatakan akan menempuh jalur pidana secara sah dan tertib "ini kalau unsurnya masuk dengan pidana saya pribadi siap melaporkan orang ini, karena sudah jelas melecehkan profesi wartawan" sikap yang menunjukkan kedewasaan dan kepatuhan terhadap hukum. Sebaliknya, Makmun Serbaguna bukannya merenungi kesalahan dan meminta maaf, malah melontarkan kalimat tantangan yang bernada mengundang konflik, seolah-olah ia sedang menunggu lawan untuk beradu kekuatan, bukan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Pertanyaan tajam pun muncul: siapa sebenarnya yang memperkeruh suasana? Jika Makmun merasa benar, mengapa tidak membiarkan proses hukum berjalan? Mengapa justru menantang dan memprovokasi publik untuk ikut serta? Apakah ini taktik agar suasana menjadi panas, sehingga perhatian publik teralihkan dari kesalahan yang telah ia perbuat yaitu penghinaan terhadap profesi wartawan yang dilindungi undang-undang?
Ucapan "saya tunggu" itu bukan tanda keberanian itu adalah tanda kesombongan yang tidak beralasan. Seolah-olah hukum tidak berlaku baginya, seolah-olah penghinaan terhadap profesi Pers itu sesuatu yang bisa ia anggap remeh dan dijadikan bahan taruhan. Ia lupa bahwa di negara ini, setiap orang setara di hadapan hukum dan kata-kata yang diucapkan di ruang publik tetap memiliki konsekuensi hukum yang harus dipertanggungjawabkan.
Makmun Serbaguna seharusnya sadar: semakin keras ia menantang, semakin jelas terlihat bahwa ia sedang berusaha mencari dukungan massa untuk melawan kebenaran. Jika ia benar-benar bersih, ia tidak perlu takut pada proses hukum. Ia tidak perlu menantang siapa pun. Ia cukup diam dan membiarkan fakta berbicara. Namun kenyataannya justru sebaliknya ia berteriak, memprovokasi, dan menantang publik. Itu bukan sikap orang yang benar itu sikap orang yang panik dan berusaha mencari jalan keluar lain selain kebenaran.
Kami ingatkan sekali lagi: menghina profesi wartawan itu melanggar UU ITE dan UU Pers. Menantang publik untuk memperkeruh suasana itu juga tindakan yang tidak bertanggung jawab. Jangan berpikir bahwa dengan memancing keributan, kesalahan yang telah diperbuat akan hilang. Justru sebaliknya setiap kata yang kau ucapkan, setiap tantangan yang kau lontarkan, itu semua akan menjadi bukti tambahan yang menjatuhkan dirimu sendiri di hadapan hukum.
Suasana yang kau tunggu itu bukan kemenangan itu adalah kejatuhan yang sedang kau percepat dengan tanganmu sendiri.
Pewarta: Yantoni
Tulang Bawang, 06 September 2026
.png)

.png)

