Serang, ungkapfakta.info –
Panen raya jagung di lahan seluas 4 hektare yang berada di Desa Cijeruk, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, berlangsung meriah. Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Cijeruk, Ketua Kelompok Tani (Poktan), Koordinator BPP Kecamatan Kibin, perwakilan BUMDes, serta Bhabinkamtibmas Polsek Cikande.
Panen raya tersebut tidak hanya menjadi momentum memetik hasil pertanian, tetapi juga melibatkan masyarakat sekitar dalam berbagai proses, mulai dari memetik jagung hingga mengupas kulit jagung.
Kegiatan pertanian ini merupakan program bersama yang diprakarsai Pemerintah Desa Cijeruk, Kelompok Tani dan BUMDes dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Koordinator BPP Kecamatan Kibin dan Bhabinkamtibmas Polsek Cikande.
Proses budidaya dimulai dari pengolahan lahan menggunakan ekskavator dan jonder, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan menggunakan singkal dan rotary. Setelah lahan siap, dilakukan penanaman benih.
Pemupukan pertama dilakukan sekitar 15 hari setelah tanam, kemudian pemupukan kedua pada usia 25 hingga 30 hari. Selanjutnya tanaman dirawat hingga memasuki masa panen.
Karena kegiatan berlangsung pada musim kemarau, pengairan tanaman menggunakan sistem drip irrigation. Masa perawatan tanaman berlangsung sekitar tiga bulan hingga jagung siap dipanen dan selanjutnya dipasarkan melalui Bulog.
Ketua Kelompok Tani, Yadi Supriyadi, mengatakan lahan seluas 4 hektare tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 10 ton per hektare untuk jagung bonggol atau jagung yang belum dikupas.
“Untuk harga yang saya dapat informasinya, jagung pipil kering bersih yang dijual ke Bulog sekitar Rp6.400 per kilogram. Sedangkan harga jagung bonggol bervariasi, tergantung kadar air, sekitar Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram,” ujar Yadi.
Menurutnya, varietas jagung yang digunakan adalah NK Sumo Sakti, yang dinilai cukup tahan terhadap serangan hama maupun kondisi musim kemarau.
“Varietas ini banyak digunakan juga di daerah Sumatera. Keunggulannya lebih tahan terhadap hama dan musim kemarau. Selama masa tanam ini baru sekali turun hujan,” jelasnya.
Untuk jasa panen, biaya pengambilan jagung bonggol dari lahan sekitar Rp250 per kilogram, sedangkan jasa pengupasan kulit jagung sebesar Rp200 per kilogram.
Kegiatan panen tersebut turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Pada panen kali ini, lebih dari 20 warga dilibatkan, baik sebagai tenaga pemetik jagung maupun tenaga pengupas kulit jagung. Penghasilan warga diperkirakan mencapai lebih dari Rp100 ribu per hari.
Salah seorang warga yang bekerja sebagai tenaga pengupas jagung, Janah, bersama Masni, mengaku kegiatan tersebut cukup membantu perekonomian sehari-hari.
“Saya sebagai pekerja kupas kulit jagung sangat terbantu untuk penghasilan sehari-hari. Sebelumnya saya juga bertani, seperti menanam padi, singkong dan jagung. Kami ikut mendukung program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Kibin, Ahayani, mengatakan kegiatan tersebut bersumber dari ADD melalui program ketahanan pangan desa yang bekerja sama dengan BUMDes dan kelompok tani.
“Kegiatan ini bersumber dari ADD melalui dana desa untuk ketahanan pangan yang bekerja sama dengan BUMDes dan kelompok tani. Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan ini mudah-mudahan memberikan efek yang sangat baik bagi warga dan membantu ketahanan pangan, khususnya dalam mendukung program pemerintah menuju swasembada pangan,” katanya.
Perwakilan BUMDes, Johani, juga menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program tersebut.
“Alhamdulillah berjalan lancar. Ini merupakan bagian dari program pemerintah terkait ketahanan pangan, khususnya jagung untuk pakan ternak. Kami berharap kegiatan ini juga dapat membantu mengurangi pengangguran di Desa Cijeruk,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Bhabinkamtibmas Polsek Cikande, Aipda Irfan Nurdiansyah. Ia mengatakan pihaknya turut berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk mengoptimalkan lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan.
“Sesuai instruksi Presiden tentang swasembada pangan, saya selaku Bhabinkamtibmas berkoordinasi dengan kepala desa untuk mencari lahan tidur agar dapat dimanfaatkan dan mendukung program pemerintah. Salah satunya dengan menanam jagung untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” ungkapnya.
Ia menambahkan, saat pembukaan lahan tersebut, Kapolri juga memberikan bantuan pupuk sebagai bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan.
Di tempat terpisah, Kepala Desa Cijeruk, Ahmad Rosadi, berharap program penanaman jagung tersebut dapat terus berkelanjutan. Ia juga meminta perhatian dari Dinas Pertanian terkait sarana dan prasarana pertanian, khususnya ketersediaan suku cadang mesin jonder.
“Kalau pemerintah membeli alat-alat pertanian, kami berharap suku cadangnya juga disiapkan. Selama ini kami cukup kesulitan mendapatkan suku cadang jonder. Kami juga berharap Dinas Pertanian dapat memperhatikan agar program penanaman jagung ini bisa berkelanjutan,” kata Ahmad.
Ia menilai keberadaan alat pertanian sangat dibutuhkan untuk mendukung produktivitas petani, terutama dalam pengolahan lahan.
Program ketahanan pangan melalui budidaya jagung tersebut diharapkan terus mendapat dukungan dan perhatian dari pemerintah, khususnya Dinas Pertanian. Selain memberikan hasil produksi pertanian, kegiatan ini juga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan keterlibatan masyarakat desa.
Desa Cijeruk sendiri dinilai memiliki geliat pembangunan ekonomi desa yang cukup baik. Selain budidaya jagung, BUMDes setempat juga mengembangkan sejumlah kegiatan seperti budi daya ikan dan peternakan kambing.
Dengan dukungan pemerintah desa, kelompok tani, BUMDes, penyuluh pertanian, aparat keamanan, serta masyarakat, program ketahanan pangan di Desa Cijeruk diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
(Kabiro Surya)
.png)
.png)

