Tinggalkan Mengajar di Kelas Demi Mengantarkan Anak ke Sekolah: Antara Naluri Orang Tua dan Amanah Seorang Guru
Oleh: Heryatno
Menjadi orang tua adalah amanah besar. Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk memastikan mereka berangkat ke sekolah dengan aman dan nyaman. Namun, ketika seorang guru harus meninggalkan tugas mengajar di kelas demi mengantarkan anaknya ke sekolah, muncul sebuah pertanyaan penting: bagaimana menempatkan prioritas antara tanggung jawab sebagai orang tua dan amanah sebagai pendidik?
Guru bukan sekadar pekerja di sekolah. Guru adalah sosok yang dipercaya oleh masyarakat untuk mendidik, membimbing, dan membentuk karakter generasi penerus bangsa. Ketika bel berbunyi dan peserta didik sudah menunggu di ruang kelas, di situlah hadir sebuah tanggung jawab profesional yang tidak boleh diabaikan.
Mengajar bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Di dalam kelas ada puluhan anak yang memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan pendidikan terbaik. Waktu belajar yang hilang bukan sekadar hitungan menit, tetapi kesempatan peserta didik untuk memperoleh ilmu, arahan, dan pembinaan karakter.
Tentu, sebagai manusia, seorang guru juga memiliki keluarga dan tanggung jawab sebagai orang tua. Tidak ada yang salah dengan keinginan mengantar anak ke sekolah. Namun, perlu ada keseimbangan agar satu tanggung jawab tidak mengorbankan tanggung jawab lainnya.
Pertanyaannya bukan “bolehkah seorang guru mengantar anak ke sekolah?” tetapi “apakah harus meninggalkan tugas mengajar yang menjadi amanahnya?”
Seorang guru yang profesional akan mencari solusi terbaik. Jika anak membutuhkan pendampingan, maka perlu pengaturan waktu, komunikasi dengan keluarga, atau mencari alternatif lain agar kewajiban mengajar tetap berjalan.
Disiplin waktu bagi seorang guru juga menjadi bagian dari pendidikan karakter. Bagaimana mungkin seorang pendidik mengajarkan tanggung jawab kepada peserta didik, jika pada saat yang sama meninggalkan kewajiban utama yang telah dipercayakan kepadanya?
Guru adalah teladan. Setiap tindakan guru akan menjadi pembelajaran bagi peserta didik. Ketepatan waktu, komitmen, dan tanggung jawab bukan hanya diajarkan melalui kata-kata, tetapi melalui contoh nyata.
Pada akhirnya, menjadi orang tua dan menjadi guru sama-sama mulia. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi harus dijalankan dengan kebijaksanaan.
Anak di rumah membutuhkan kasih sayang orang tua, tetapi anak di sekolah juga membutuhkan kehadiran seorang guru. Jangan sampai demi mengantar satu anak menuju sekolah, kita melupakan puluhan anak yang sedang menunggu ilmu di dalam kelas.
Karena guru yang hebat bukan hanya mampu mengajar dengan ilmu, tetapi juga mampu menjaga amanah dengan keteladanan.
UngkapFakta | Garut- Mengungkap Fakta, Menyuarakan kebenaran
— Heryatno
.png)

.png)

